Senin, 19 Desember 2022

Muchachos

...

Muchachos, ahora nos volvimos a ilusionar/ Quiero ganar la tercera, quiero ser campeón mundial/ Y al Diego, desde el cielo lo podemos ver con Don Diego y con La Tota, alentándolo a Lionel/Interpretación de 'No sabemos todavía'//

MUCHACHOS mengingatkan tentang penderitaan Argentina, di sisi lain juga keinginan kuat untuk mendapatkan kebanggaan.

Lagu ini tak hanya tentang keinginan kuat untuk mendapatkan Piala Dunia untuk ketiga kalinya, termasuk luka bangsa Argentina.

Tentu, Diego Maradona dan Lionel Messi menjadi tokoh sentral dalam liriknya, tapi lagu ini memberi penghormatan kepada tentara Argentina yang bertempur dalam perang Falklands (Malvinas). 


Argentina kalah dari Inggris dalam perang singkat namun berdarah di kepulauan yang berada di Atlantik Selatan pada tahun 1982.

//En Argentina nací, tierra de Diego y Lionel/ de los pibes de Malvinas que jamás olvidaré/ No te lo puedo explicar/ porque no vas a entender/ ...

Namun lagu ini merupakan salah satu harapan agar Argentina, dengan bantuan Lionel Messi, dapat mengakhiri 36 tahun penantian kejayaan Piala Dunia. Dan, itu terjadi.

“Kami adalah negara yang terbiasa menderita, tetapi ketika kami menderita, kami mengeluarkan yang terbaik dari diri kami sendiri,” kata Alejandro Rubio (54) asal Argentina seperti dikutip dari AP.

“Jadi, di Piala Dunia ini, setelah sekian lama, kami akan melakukan yang terbaik. Ini akan menjadi Piala Dunia yang hebat.”

Fernando Romero mengadaptasi lagu lama band pop La Mosca untuk mendukung tim nasional. 

Dia terinspirasi setelah kematian Maradona dan kemenangan Argentina di Copa America melawan Brasil di Stadion Maracana di Rio de Janeiro.

“Saya merasa bahwa Diego bersama kami dan saya menyukai gagasan untuk memasukkannya ke dalam sebuah lagu yang dapat kami nyanyikan bersama,” kata Romero seperti dikutip dari AP. 

Argentina berduka atas meninggalnya kapten tim yang menjuarai Piala Dunia 1986 pada November 2020. Diego Maradona wafat di usia 60 tahun. 

Pada Juli 2021, Argentina yang dilatih oleh Lionel Scaloni dengan kapten Messi memenangkan Copa America untuk pertama kalinya setelah 28 tahun. 

Di salah satu bagian lagu, Romero menulis bahwa "dari langit kita bisa melihat Diego, bersama dengan Don Diego dan La Tota, mendukung Lionel, dan menjadi juara lagi ..."

Lagu tersebut menjadi sangat populer sehingga dinyanyikan oleh Messi, yang mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa itu adalah lagu fan favoritnya.

Setelah memenangkan trofi Piala Dunia untuk ketiga kalinya. lagu ini mungkin tidak relevan lagi. Tapi bagi Romero itu tidak masalah.

"Jika kami menang hari Minggu dan lagu itu tidak pernah dinyanyikan lagi setelah itu... saya tidak masalah," katanya. 

“Yang penting adalah menang pada hari Minggu, dan saya menjalaninya seperti orang Argentina mana pun, dengan banyak kecemasan, banyak harapan, dan banyak kepercayaan pada kelompok pemain yang kami tahu akan memberikan segalanya untuk mengibarkan bendera."|

Rabu, 19 Mei 2021

Apa Gunanya Kompetisi Tanpa Degradasi

MAHASISWA di University of Michigan, Amerika Serikat, kebingungan saat Stefan Szymanski, ekonom asal Inggris, menjelaskan tentang konsep promosi dan degradasi dalam kompetisi di liga-liga olahraga Eropa.

"Mereka bingung dan yakin (konsep) itu tidak akan berhasil di AS,” kata Szymanski, penulis buku Soccernomics, dikutip dari The Athletic.

Liga-liga top olahraga di AS memang tak mengenal konsep degradasi dan promosi. Lihat saja NBA (basket), NFL (football), NHL (hoki) , MLB (bisbol), bahkan MLS (sepakbola) sekalipun. Kompetisi berlangsung secara tertutup.

Mungkin kelihatan aneh, tapi begitulah adanya. Sistem tersebut memungkinkan secara bisnis berjalan lebih terkendali. Tengoklah bagaimana MLS yang digulir mulai 1996, pada 2018 berada di posisi 11 di antara liga-liga di dunia berdasarkan pendapatannya.

Sistem kompetisi tertutup inilah yang coba diadopsi oleh Liga Super Eropa (ESL). Dua belas tim pendiri dan tiga tim lainnya tidak akan terdegradasi dengan tambahan lima tim yang bisa berubah tiap tahunnya. Motifnya, tentu saja, uang.

Menurut Joel Glazer, pemilIk Manchester United yang juga wakil ketua ESL, proyek tersebut mewakili "babak baru untuk sepakbola Eropa." Penggemar sepakbola akan menyaksikan pertandingan klub-klub raksasa di Eropa secara reguler.

Tak kalah penting, pendapatan klub-klub tersebut lebih terjamin. Lembaga perbankan dan investasi, JP Morgan, akan menggelontorkan 4,8 miliar dolar untuk mendanai Liga Super. Setiap klub peserta setidaknya akan mendapatkan 350 juta euro.

Namun hanya dalam 48 jam babak baru ESL luluh lantak. Sebagian orang menyebut, ini adalah kemenangan penggemar sebagai simbol budaya sepakbola atas upaya kapitalis, yakni pemilik klub, untuk lebih banyak mereguk untung secara komersial.

Para penggemar terutama dari Inggris bereaksi keras. Mereka menolak amerikanisasi sistem kompetisi sepakbola Eropa. Bahkan, aksi penggemar Manchester United masih berlanjut. Mereka memang mempunyai hubungan buruk dengan Keluarga Glazer, pemilik klub itu.

Sebagian pendukung MU percaya, Glazer memberi dampak jelek terhadap klub. Keluarga itu hanya mencari keuntungan bukan prestasi. Fasilitas klub tak pernah diperbaiki, bahkan MU punya utang hampir 500 juta euro.

Penggemar sepakbola di Inggris tampaknya menaruh kecurigaan terhadap para pemilik klub asal AS. Bukan kebetulan dari enam tim asal Inggris yang bergabung dengan ESL (walaupun kemudian menyatakan mundur), tiga di antaranya adalah milik investor asal AS.

MU sudah jelas dimiliki oleh Keluarga Glazer. Kemudian ada Arsenal dan Liverpool. Stan Kronke melalui Kroenke Sports & Entertainment menguasai Arsenal, sementara Liverpool merupakan milik grup Fenway.

Apalagi kalau melihat struktur liga olahraga profesional di AS bersifat oligarki. Mengutip Washington Post, keuntungan dari kompetisi dibagi di antara kelompok mereka. Adapun tim yang berkompetisi tetap, tak peduli seberapa baik atau seberapa buruk mereka bermain.

Di sisi lain, kompetisi di liga-liga Eropa secara historis berdasarkan sistem piramida dengan adanya konsep degradasi dan promosi. Tingkat kompetitif tentu tinggi, begitu juga tatraktifnya. Namun secara finansial liga sepakbola ini jauh berisiko.

Sedangkan investor tentu saja mencari sistem dengan risiko terendah dan keuntungan finansial tertinggi. Tak aneh, jika mereka ingin mengurangi risiko investasi, satu di antaranya dengan menghapus sistem berbasis prestasi dan mencari cara untuk membatasi biaya.

Karenanya, wajar saja penggemar sepak bola di Eropa, terutama di Inggris, menolak keras gagasan Liga Super. ESL adalah hasil logis dari komersialisasi sepak bola yang terus meningkat. Kontrol seluruh aspek permainan dimonopoli segelintir orang kuat.

Lalu apa makna sepakbola sebagai permainan rakyat ketika kesenangan para penggemar bergeser kepada pendekatan untuk mencari keuntungan para kapitalis? Saat klub seperti waralaba dan dan penggemar sebagai pelanggan?

Identitas lokal yang kuat dan keterikatan pada tempat direduksi menjadi sekadar "narasi" pemasaran untuk memosisikan merek yang bersaing di pasar global logo dan warna tim.

Para penggemar klub-klub di Inggris sudah merasakan bagaimana komersialisasi berjalan bahkan sebelum ada rencana EPL. Liga Premier Inggris memang paling wahid dalam pengumpulan pundi-pundi keuntungan, namun penggemarnya bisa jadi iri dengan rekan mereka di Bundesliga Jerman

Fan sepakbola di Jerman bisa lebih murah mendapatkan tiket untuk klub favorit mereka. Belum lagi sistem kepemilikan klub 50+1 yang menjadi tameng kepentingan penggemar.

Penyelenggaraan Liga Super buyar, namun masih menyisakan perjuangan para penggemar klub sepakbola di Inggris, terutama MU, untuk mendapatkan hak kepemilikan.

Tak berselang lama dari drama ESL, di Indonesia muncul wacana Liga 1 tanpa degradasi untuk musim 2021/2022. Dampak pandemi Covid-19 jadi alasan. Klub-klub peserta Liga 1 pun terbelah pandangannya. Ada yang setuju, menolak, ada juga masih bingung

Tapi, rasanya bukan kompetisi bila tanpa ada konsep degradasi dan promosi.

Tentu hal berbeda bila tujuannya demi komersialisasi liga seperti layaknya sistem ini bekerja di MLS. Tak mengapa bila memang tujuan kompetisi hanya untuk mereguk keuntungan secara ekonomi dengan menyampingkan nostalgia pendukung tradisional. Namun bisakah demikian?

Bagi saya, yang lahir di Jawa Barat, Persib adalah bagian identitas saya. Ada rasa memiliki bukan sekadar menggemarinya

Lagian pula, bukan hal mudah menerapkan sistem kompetisi tertutup untuk mereguk keuntungan seperti liga sepakbola di AS berjalan. Ya karena perangkat dan kultur yang berbeda.

Tapi bila alasannya asal kompetisi bergulir juga buat apa?

Selasa, 04 Mei 2021

50 plus 1

sumber: the League
sumber: the League

RENCANA Liga Super Eropa (ESL) hancur diamuk penggemar sepak bola. Permintaan maaf pemilik klub, terutama di Inggris, tidak menyurutkan tudingan atas ketamakan mereka.

Buntut lain dari ‘bombshell’ itu adalah pembicaraan tentang model ideal kepemilikan sebuah klub sepak bola. Bundesliga pun dilirik jadi contoh. Tapi mungkinkah model kepemilikan klub di Liga Jerman itu bisa diterapkan di liga lain?

Dalam wawancara dengan SportBild beberapa tahun lalu, CEO Borussia Dortmund Hans-Joachim Watzke mengatakan tidak ingin melihat penggemar Jerman “diperah” untuk mendapatkan uang “seperti yang terjadi di Inggris.”

Menurut dia, penggemar sepak bola di Jerman secara tradisional memiliki hubungan yang erat dengan klubnya. “Dan jika dia (fan) merasa bahwa dia tidak lagi dianggap sebagai penggemar tetapi sebagai pelanggan, kami memiliki masalah,” kata Watzke, dikutip dari Budesliga.com.

Faktanya, sebelum pandemi Covid-19, kehadiran penonton Bundesliga di stadion selalu tinggi dengan rataan tiket paling rendah dibandingkan dengan liga-liga elite lainnya di Eropa.

Faktor utama hal tersebut bisa terjadi karena aturan kepemilikan 50+1. Klub-klub sepakbola di Jerman dengan pengecualian Bayer Leverkusen, VfL Wolfsburg, dan RB Leipzig, ‘dimiliki’ oleh penggemarnya

Berdasarkan peraturan Liga Sepak Bola Jerman [DFL], klub sepak bola tidak akan diizinkan bermain di Bundesliga jika investor komersial memiliki lebih dari 49 persen saham.

Intinya, investor swasta tidak dapat mengambil alih klub. Alhasil, potensi tindakan yang memprioritaskan keuntungan daripada keinginan pendukung sepak bola dapat dicegah. Walau masih ada celah, investor bisa memiliki klub jika telah berinvestasi tanpa putus selama 20 tahun.

Dengan aturan kepemilikan 50+1, orang kaya Arab, pengusaha Amerika Serikat, atau miliarder Rusia tidak bisa gampang menguasai kepemilikan klub sepak bola di Jerman.

“Sebagian besar investor ingin mendapatkan uang. Dan dari mana mereka mendapatkannya? Para penonton,” kata Watzke.

Mantan presiden UEFA Michel Platini pun memilih model Bundesliga sebagai standar emas: 

“Sementara negara-negara Eropa lainnya memiliki liga yang membosankan, stadion yang setengah kosong dan klub di ambang kebangkrutan, sepak bola Jerman berada dalam kesehatan yang luar biasa,” kata dia pada 2013.

Tapi, apakah aturan kepemilikan 50+1 ini bisa diterapkan di liga lainnya, di Inggris, misalnya. Uli Hesse yang bekerja untuk majalah bulanan sepak bola, 11 Freunde, dalam opininya untuk Guardian, menyatakan sulit. Faktor yang merintanginya sejarah, budaya, dan aturan.

Hesse menyebut, hingga abad ke-21, klub-klub sepak bola Jerman, bahkan yang terkaya dan terbesar sekalipun, merupakan tim amatir. Mereka dijalankan oleh voluntir. Komunitas sepak bola bahkan masih memegang gagasan, sepak bola bukanlah bisnis.

Sebelum Bundesliga terbentuk pada 1963, semua klub Jerman mengikuti format yang sama. Mereka didirikan oleh para peminat untuk melayani komunitas lokal.

Siapa pun yang tertarik, dapat bergabung dan memberikan suara pada semua urusan klub. Itulah mengapa klub-klub tersebut tidak hanya publik, tapi organisasi nirlaba yang didirikan untuk kebaikan bersama.

Selama empat dekade setelah profesionalisme, klub-klub Jerman mampu menahan iblis komersialisasi. Presiden tidak dibayar yang dipilih oleh anggota menjalankan tim terbaik di Eropa.

Booming sepak bola di dekade 90-an kemudian mengubahnya. Klub-klub ‘tradisional’ Jerman yang ‘tidak dimiliki siapapun' dianggap bisa kalah bersaing dengan tim-tim negara lain. Maka, asosiasi Liga Jerman mengubah aturan pada 1998. Muncullah aturan kepemilikan 50+1 yang tetap ‘memprioritaskan’ penggemar.

Menurut Hesse, bagi fans di luar Jerman, pengaturan ini mungkin tampak menarik, tetapi sulit diaplikasikan. Dia mencontohkan, akan sangat susah klub di Inggris dengan sukarela mengalihkan kepemilikan aset. Para investor tentu tidak akan rela dan akan memberikan perlawanan.


Aturan kepemilikan 50+1 juga tidaklah sempurna.Pada 2017 lalu, Ketua Dewan Eksekutif Bayern Munchen Karl-Heinz Rummenigge mengatakan, klub harus diberi kekuasaan lebih luas untuk memutuskan apakah mereka butuh investasi dari luar.

Boikot


STADION
Selhurst Park, London, 25 Januari 1995. Ejekan Matthew Simmons membuat darah Eric Cantona kian mendidih. Kapten Manchester United asal Prancis yang sesaat sebelumnya mendapat kartu merah dari wasit, Alan Wilkie, langsung melayangkan tendangan ke pada fan Crystal Palace itu.

Momen Cantona saat mencoba untuk mengenyahkan rasisme dari sepakbola dengan tendangan kungfunya masih membekas hingga sekarang. Seperempat abad berlalu, sepak bola, lebih luas lagi dunia olahraga, masih terkungkung dalam masalah yang sama.

Kini, media untuk menyerang para atlet semakin meluas. Ejekan bernada rasialis hingga ancaman pembunuhan terhadap atlet, bahkan anggota keluarganya, kian masif melalui media sosial.

Kapten Watford, Troy Deeney, mengaku, mendapatkan enam kali ancaman pembunuhan yang ditujukan kepada anak perempuannya. Sejumlah pemain di Liga Inggris lainnya juga mendapat diskriminasi dan pelecehan melalui media sosial.

Kick It Out, organisasi yang menentang rasisme, menyebutkan, laporan terkait diskriminasi selama musim kompetisi 2019-2020 di liga profesional sepak bola naik 42 persen dari musim sebelumnya. Jumlah insiden meningkat dari 313 menjadi 446.

Laporan pelecehan bernada rasialis juga meningkat 53 persen. Jumlah kasusnya naik dari184 pada musim sebelumnya menjadi 282. Kick It Out juga menerima 117 laporan serangan atas dasar orientasi seksual. Angka ini meningkat 95 persen!

Manchester United menyebutkan melalui unggahan di Twitter, sejak September 2019, ‘pelecehan online’ yang diterima para pemainnya meningkat 350 persen sejak September tahun lalu.

Survei BBC Sport terhadap atlet top wanita Inggris menemukan bahwa sepertiga dari partisipan telah mengalami pelecehan di media sosial.

Kondisi ini membuat para atlet frustasi. Komunitas sepak bola Inggris pun mengambil sikap untuk melawan ‘pelecehan dan rasisme online’. Mereka memboikot media sosial, seperti Facebook, Instagram, dan Twitter mulai Jumat lalu. Aksi ini berakhir Senin.

Klub-klub Liga Inggris bergabung dengan FA, EFL dan Liga Super Wanita dalam protes ini. Dalam pernyataannya, pihak Liga Premier, meminta perusahaan media sosial untuk lebih banyak berusaha untuk memberantas kebencian-kebencian yang diungkapkan para pengguna platform mereka.

Mereka juga meminta pemerintah Inggris untuk memaksa perusahaan media sosial, melalui undang-undang, bisa lebih bertanggung jawab terhadap platform mereka.

“Perilaku rasis dalam bentuk apa pun tidak dapat diterima dan pelecehan mengerikan yang para pemain terima di platform media sosial tidak dapat dibiarkan berlanjut,” ujar Kepala Eksekutif Liga Premier Richard Masters.

Boikot terhadap media sosial ini menuai dukungan banyak pihak, termasuk UEFA dan ECA (European Club Association). Bahkan komunitas kriket dan rugbi pun turut serta.

Komunitas sepak bola mengajukan, setidaknya, empat tuntutan kepada perusahaan media sosial. Pertama, pemblokiran terhadap postingan rasis atau diskriminatif. Kedua,  postingan yang melecehkan dihapus melalui tindakan yang tegas, transparan, dan cepat.

Ketiga, proses verifikasi yang lebih baik untuk memungkinkan penegakan hukum mengidentifikasi pengguna dan menghentikan pembuat postingan yang melecehkan membuat akun baru.

Keempat, platform medsos bekerja lebih dekat dengan kelompok penegak hukum untuk mengidentifikasi orang yang memposting konten diskriminatif jika melanggar hukum.

Lalu bagaimana tanggapan Facebook, Instagram, dan Twitter, terhadap aksi boikot ini? Facebook, seperti mengutip CNBC, menyebut telah mengambil sejumlah langkah.

“Kami terus bekerja sama dengan polisi Inggris Raya terkait perkataan yang mendorong kebencian, dan menanggapi permintaan informasi yang sah secara hukum, yang mungkin penting untuk penyelidikan.

“Kami akan terus mendengarkan masukan dan terus memerangi kebencian dan rasisme di platform kami,” demikian pernyataan seorang juru bicara Facebook.

Adapun Twitter mengaku telah menghapus lebih dari 7.000 tweet di Inggris sejak 12 September lalu.

Dalam pernyataan pada Februari, Twitter menyatakan bahwa “teguh dalam komitmen kami untuk memastikan percakapan sepak bola di layanan kami aman untuk penggemar, pemain, dan semua orang yang terlibat dalam permainan”.

Media sosial bak pisau bermata dua. Suka atau tidak suka, media sosial juga bagian dari lanskap dunia olahraga, pun sepak bola, yang bisa memberikan keuntungan, semisal sponsor, citra diri.

Di sisi lain, kehidupan sehari-hari mereka kian terbuka. Media sosial juga jadi kanal bagi pembenci mereka untuk menyerang, menghina, dan melecehkan. Hal ini tentu tak bisa ditoleransi.

Lantas, apakah aksi boikot terhadap media sosial di akhir pekan ini cukup? “Ini adalah permulaan,” ujar mantan pesebak bola Prancis yang pernah menjadi ikon Arsenal Thierry Henry.

Sabtu, 31 Desember 2016

Tar Ter Tor

"every year is getting shorter, never seem to find the time."
                                                                                                  Time
                                         Pink Floyd

foto: roeder-feuerwerk.de
SENIN, 31 Desember 2012, asap mengepul memenuhi halaman belakang sebuah rumah di Sinindian, Kotamobagu. Puluhan ruas bambu berukuran sekitar 70 cm dipasang berjejer di atas pembakaran. 

Sejumlah orang tak peduli dengan kepulan asap berusaha menjaga beras ketan dalam ruas bambu supaya masak dengan sempurna sehingga menjadi 'nasi jaha' atau 'binarundak' yang nikmat.

Tar, ter, tor, suara petasan terdengar sejak sore bersahutan dari segala arah. Sesekali terdengar juga suara terompet kendati waktu pergantian tahun masih beberapa jam lagi. 

Beberapa pemuda yang sedang mempersiapkan di belakang rumah dekat warung kopi tersebut rupanya tak mau kalah. Mereka pun mulai menyalakan kembang api dan petasan kendati malam belum pekat.

Ustaz yang rumahnya dekat dengan 'dapur umum' tersebut rupanya mulai terganggu dengan suara letusan yang bersahutan. Dia pun menutup pintu depan rumahnya yang sebelumnya terbuka. 

Tiba saat sang Anak Ustaz keluar dari rumah bersama pacarnya, Ustaz yang bertubuh tambun dan berkacamata tersebut sempat mengajak berbincang sesaat akan menutup pintu kembali rumahnya.

"Kiamat tidak jadi kan, mas," kata dia kepada saya sambil memegang daun pintu. Saya sempat tertegun sejenak dan tidak langsung membalas perkataanya. 

"Tidak ada yang tahu kapan itu kiamat," kata dia seraya mengutip sebuah hadis. Sambil menutup pintu dia menuntaskan perkataanya, "Bisa-bisanya tertipu dengan segala macam ramalan."

Di balik kaca depan yang transparan depan rumahnya, saya sempat mencuri lihat sang Ustaz. Dia duduk di kursi plastik dan sibuk menggoreskan tulisan di sebuah kertas di atas meja. 

Entah apa yang dia tuliskan dan itu bukan urusan saya juga. Saya kembali menenggelamkan diri dengan Pink Floyd, Bjork, Thom Yorke, kadang Royksopp dari Youtube.

Konsentrasi saya dari layar komputer jinjing teralih saat seorang anak masih belasan membawa satu kardus bertuliskan yang merk bir lokal, Valentin. 

Kemudian seorang pria yang mungkin hanya beberapa tahun lebih tua umurnya dari ABG tersebut membawa kardus yang sama. Bedanya, dia membawa satu dus minuman suplemen yang saya duga akan menjadi campuran bir tersebut.   

Malam ini tahun akan berganti...

*Ya, empat tahun lalu di warung kopi Sinindian.

Kamis, 29 Desember 2016

Teperdaya

SUATU hari sakadang Monyet mengajak sakadang Kuya mencuri cabai milik pak Tani. 


Kuya awalnya menolak. Bukan  alasan moral ia tak mau mencuri. Toh, menikmati pedas cabai pak Tani adalah surga juga.

Sakadang Monyet suka berisik saat mencuri. Itu dia  alasannya!

Setelah mati-matian berjanji tak akan akan gaduh,  sakadang Monyet berhasil mengajak  si Kuya menjadi partner in crime. Kejahatan cetek, tapi sungguh-sungguh.

Saat matahari condong ke barat, mereka sudah berada di kebun pak Tani.

Benar saja perkiraan sakadang Kuya, sakadang Monyet yang kepedasan makan cabai tak bisa lagi mengontrol diri. Sang Monyet malah mengeluh,- mungkin  melenguh.

Sambil mengunyah, mulutnya berkata berulang-ulang: "Seuhah,  lata-lata!"

Sang  Kuya beberapa kali mengingatkan agar Monyet tak gaduh.  Dia takut pak  Tani menjadi awas dengan suara sakadang Monyet. Namun apa daya, temannya  tak bisa lagi menahan rasa pedas yang menyengat lidah.

Kekhawatiran sakadang Kuya jadi kenyataan. Pak Tani datang. Sakadang Monyet langsung  lari meninggalkan sakadang Kuya yang tak bisa kabur. Si Kuya mah  jalanya saja ngadedod. Mana bisa kabur kalau lambat mah.

"Beunang siah...!" Pak Tani berseru sambil memegang sakadang Kuya.

Di sisa tenaganya, sakadang Kuya berusaha lepas. Namun, upaya dia sia-sia.

Pak  Tani membawa sakadang Kuya ke rumahnya. Dia kemudian mengurung sakadang  Kuya dalam kurungan ayam. Harapan sakadang Kuya untuk kabur kian pupus.

"Besok, kita sembelih kura-kura itu," ujar pak Tani kepada anaknya.

***

DI luar sudah gelap. Sakadang Kuya hanya bisa tafakur dalam kurungan ayam pak Tani. tak ada lagi harapan.

Di puncak keputusasaan, dia mendapatkan kepasrahan. Bila maut sudah tiba, siapalah yang berkuasa selain pemilik kehidupan.

Saat kesadaran mulai memasuki mimpi, sakadang Kuya mendengar suara desisan.  Bukan dari sakadang ular yang tak pernah karib dengannya. Desisan itu  sangat akrab di telinga dia.

Ketika matanya betul-betul terbuka,  ia bersitatap dengan dua bola yang cemerlang. Itu adalah mata  sahabatnya, sakadang Monyet yang meninggalkan ia dari sergapan pak Tani.

Amarah  kembali berkobar dalam hati sakadang Kuya. Namun air mukanya tetap  menunjukkan ketenangan. Seperti air sungai yang mengalir tenang.

"Ssst...,  sakadang Kuya, bagaimana kabarmu?" Sakadang Monyet bertanya. Nada  suaranya bergetar, entah karena kedinginan atau ketakutan.

"Alhamdulillah, baik. menyenangkan  malah," sakadang Kuya menjawab penuh keriangan.

Sakadang  Monyet kaget. Bagaimana mungkin berada dalam kurungan, temannya masih  bisa sesenang seperti saat melihat ranumnya cabai di kebun pak Tani tadi  siang.

Rasa penasaran sakadang Monyet terbalaskan saat si teman  yang 'lambat' mengisahkan kegembiraanya. Ada berkah tersembunyi dari  penangkapannya, kata sakadang Kuya.

"Sudah lama pak Tani mencari calon mantu. Besok aku akan dikawinkan dengan anak perempuan pak Tani. Siapa yang tak senang."

Sakadang Monyet menukas, "Amboi, beruntungnya temanku! Seandainya aku berada di posisimu."

"Aku tak sesenang yang kau kira. Aku pikir ada yang lebih pantas mendapatkan si gadis."

"Siapa dia, temanku?" sakadang Monyet langsung bertanya penuh penasaran.

Beberapa  saat sepi, hanya tarikan napas sakadang kuya yang terdengar  lapat-lapat. Kepala sakadang Monyet kian mendekat ke kurungan. Tanganya  kemudian memegang kurungan, sementara pupil matanya kian membesar.

"Aku rasa yang lebih pantas bersanding dengan anak pak Tani adalah kamu. Tapi, apakah kamu mau?"

"Bodoh,  tentu saja aku mau. Tapi kamu benar-benar rela melepaskan kesempatan  ini? Bukankah kesempatan itu mahal, dan kamu mau melepaskan kemewahan  itu?" kata sakadang Monyet.

"Dari sisi apa pun kamu yang lebih  pantas. tak hanya rupamu, kemampuanmu akan mampu memesona bahkan bagi  calon mertuamu yang galak itu," si kuya menukas.

"Ok, kalau begitu. Sebaiknya kita tukaran. Aku akan masuk dalam kurungan itu," ujar sakadang Monyet.

"Namun, ada syarat. Sebelum kamu masuk kurungan ini, lemparkan aku ke sungai," kata Kuya.

Dua  sahabat itu mencapai kesepakatan. Setelah melempar Kuya ke sungai,  sakadang Monyet dengan hati berbunga-bunga masuk kurungan. Tak lama,  tengkuran terdengar kemudian.

Sinar matahari membangunkan  sakadang monyet. Matanya terbuka perlahan, sementara mulutnya bersiul.  Telinganya mendengar suara keramaian dari rumah pak Tani.

"Dimana  golok, bapak? Apa kamu sudah asah baik-baik, biar penyembelihan kuya  itu cepat." Suara pak tani terdengar jelas sampai tempat kurungan.

"Waduh...!" Hati monyet mengaduh.

***

IA yang biasa telanjang kini mengenakan beledu. Manik-manik keemasan  tersemat menambah anggun pakaian sakadang monyet hari itu. Peci yang  kebesaran dan sepatu runcing yang tak pas di kaki tak ia pedulikan.

Bahagia  berada di pelaminan bersama anak pak Tani lebih penting bagi dia.  Nyengir. Bukan, bukan nyengir sebenarnya. Itu adalah senyuman yang  selalu disalahartikan. Tapi, sakadang Monyet tak ada waktu untuk  memperdulikan sangkaan.

Namun, kebahagiaan itu hilang saat  matahari membangunkannya. Baru saja kelopak matanya terbuka, sakadang  Monyet sudah mendengar pak tani akan menyembelih ia yang berada di  kurungan.

Sekali lagi, ia diperdaya temannya, sakadang Kuya.

Tak  ada waktu untuk menggerutu, tapi ia tak tahu apa yang harus lakukan. Ia  berputar-putar di dalam kurungan ayam itu. Suara langkah kaki di atas  pelupuh rumah pak Tani jelas terdengar. Gemeretaknya kian terasa dekat.

Akhirnya ia telentang. matanya mengatup. Ia tarik napas dalam-dalam. "Ya, aku harus pura-pura mati."

Napas yang ia hirup tak pernah lagi ia embuskan.

Pak  Tani yang membuka kurung kaget bukan main. "Sore kemarin rasanya aku  menangkap kura-kura. Kenapa dalam semalam sudah berubah jadi monyet.  Monyet mati lagi," pak Tani menggerutu dalam hatinya.

Pak Tani  kesal bukan main, sementara sakadang Monyet setengah mati menahan napas.  Dag, dig, dug. Waktu seakan berjalan lambat. Tangan pak Tani tiba-tiba  meraih kaki sakadang Monyet. Kemudian mengangkatnya.

Pusing  sekali saat pak tani memutar-mutar tubuhnya di udara. Setelah beberpa  putaran, ia merasa melayang.

Buk, ia terempas. Sakit, tapi sakit itu  yang membuat sakadang Monyet bisa bernapas bebas lagi. Ia langsung  berdiri dan lari pontang panting.

Lapat-lapat ia mendengar umpatan pak Tani. "Kurang ajar!"


Catatan: Cerita sakadang Kuya dan sakadang Monyet, beberapa kali saya dengar  waktu kecil. Kalau tidak salah, cerita ini ada dalam buku pejaran Basa Sunda. Namun di sini, saya sedikit ropea. Hormat  bagi pengarang cerita ini.

Palsu

MINGGU, 4 Desember 2016, Edgar M Welch memasuki restoran pizza di Washington DC dengan dua senjata di tangannya. Senjata ketiga kemudian ditemukan di mobilnya.

Pria berumur 28 tahun ini melepaskan tembakan di dalam restoran. Tak ada korban jiwa pada kejadian ini. 

Seorang pelayan yang sempat ditodong senjata berhasil melarikan dan melaporkan kejadian tersebut kepada polisi.

Welch, ayah dua anak ini berhasil diringkus. Terungkaplah motif pria yang datang dari North Carolina ini melakukan tindakan mengerikan itu.

Kepada polisi ia mengaku datang ke restoran pizza itu untuk menyelidiki dan menyelamatkan anak-anak yang disekap di restoran tersebut. 

Welch percaya dengan berita bahwa di restoran tersebut tempat pengelola jaringan seks anak- anak. Ia pun percaya dengan teori konspirasi yang menyebar di daring atau internet. 

Kenyataanya sangkaan Welch tak terbukti. Ia terjebak dengan berita palsu. Betapa menakutkannya dampak berita palsu. 

Bukan hanya Welch yang percaya dengan berita-berita palsu. Warga Amerika Serikat kerap terkecoh dengan berita-berita palsu. Setidaknya demikian hasil survei BuzzFeed bersama Ipsos.

Hasil survei yang dipublikasikan di BuzzFeed 7 Desember 2016 lalu menyebutkan 75 persen orang dewasa di AS percaya berita-beriat palsu itu akurat.

Kebanyakan responden dalam polling ini juga lebih suka mengambil sumber berita dari Facebook. Mereka justru tidak mengandalkan platform media berita.

Survei secara online atau dalam jaringan (daring) ini melibatkan 3.015 orang dewasa AS. Survei dilakukan antara 28 November dan 1 Desember.

Satu di antara hasil survei ini adalah, 23 persen responden mengambil sumber berita dari Facebook. Jumlah persentase tersebut hanya di bawah CNN (27 persen) dan Fox News (27).

Sebanyak 83 persen yang mengambil berita dari Facebook memercayai berita palsu yang mereka ambil tersebut akurat.

Pihak Facebook yang kerap menerima kritik untuk urusan pemberitaan palsu atau hoax pun gerah juga. Mereka merealisasikan janji memperbaiki aliran berita di linimasa. 

Fecebook melakukan beberapa langkah untuk memerangi berita palsu. Di antaranya, setiap artikel yang ada di linimasa Facebook kini dilengkapi dengan fitur pelaporan. 

Facebook bekerja sama dengan organisasi pihak ketiga untuk memperingati pengguna ketika hendak membagi berita-berita yang diperdebatkan.

Facebook juga memutus insentif untuk penyebar berita palsu. Situs hoax bukan semata-mata untuk menggiring opini publik, namun juga untuk mendapat keuntungan finansial.

Terakhir adalah memperbanyak penyebaran informasi yang benar. Ke depan juga, Facebook akan banyak menyebar berita yang  tak memicu kebencian.

Situasi tersebut menjadi cermin. Begitu banyak informasi yang bertebaran di daring. Terkadang begitu mudahnya kita percaya dengan berita-beita tersebut.

Sebelum terlanjur terjebak dalam kebencian tanpa alasan, setidaknya self censhorship harus kita terapkan. Saring sebelum sharing; menyaring berita atau informasi sebelum kita membagikannya.

Kritis terhadap sumber berita bukan dosa. Setidaknya kita berupaya mencari sumber yang sahih, sehingga kita tak mudah dipermainkan dalam dunia informasi yang begitu ramai. (*)

Kamis, 29 Oktober 2015

Rossi

PAOLO Rossi berangkat ke Spanyol sebagai bagian dari Tim Nasional Sepakbola Italia pada Piala Dunia 1982 penuh dengan kontroversi. Dia baru saja menyelesaikan masa hukuman selama tiga tahun yang kemudian dipotong menjadi dua tahun setelah terlibat pengaturan skor atau dikenal dengan sebutan skandal Totonero

Skandal ini melibatkan beberapa tim Serie A dan B. Sedikitnya 20 pemain terkena larangan bermain, termasuk Rossi. Dia pun harus melewatkan Piala Eropa tahun 1980 yang berlangsung di Italia. Namun, setelah tak bermain hampir selama dua tahun, Enzo Bearzot, pelatih Tim Nasional Italia saat itu tetap memanggil Rossi untuk masuk ke skuadnya.

Dikutip dari Wikipedia, Italia memulai Piala Dunia di Spanyol itu tidak meyakinkan. Memang lolos dari penyisihan grup, namun hanya bermodalkan tiga poin dari tiga kali hasil imbang. Nilai yang sama seperti yang dimiliki oleh Kamerun. Italia hanya beruntung karena koleksi golnya lebih banyak dari pada Kamerun.

Babak selanjutnya, Italia tergabung dalam grup maut. Dino Zoff, sang Kapten, bersama kawan- kawanya harus berhadapan dengan juara bertahan, Argentina, dan tim Brasil yang sudah tiga kali juara dunia. Namun dengan taktik catenaccio yang mendapat kritik habis-habisan, Italia berhasil mengalahkan Argentina 2-1.

Pada pertandingan berikutnya, Bearzot membuktikan keputusan membawa Rossi ke Spnyol tak salah. Melawan Brasil, Rossi berhasil membuat hatt-rick. Italia mengempaskan Brasil dengan skor 3-2. Gli Azzuri pun melenggang ke semifinal sebagai pemuncak grup. Polandia telah menanti sebagai lawannya.

Rossi membuat gol ke gawang Polandia pada pertandingan yang berakhir 2-0 itu. Brace! Ya, Rossi mencetak dua gol pada semifinal. Berkat dua gol itu pula, Italia melangkah ke final untuk menghadapi Jerman Barat yang pada semifinal mengalahkan Perancis melalui adu pinalti.

Duel dua raksasa sepakbola Eropa ini berakhir untuk kemenangan Azzuri dengan skor 3-1. Lagi- lagi Rossi mencetak gol untuk membawa Italia menjadi Juara Dunia tiga kali dan menyamai capaian Brasil pada saat itu. Total enam gol dicetak Rossi pada turnamen itu. Paolo Rossi didaulat sebagai pemain terbaik dan meraih sepatu emas.

Ya, Tim Nasional Italia kala itu berangkat ke Spanyol setelah skandal judi yang mengguncang persepakbolaan dan memulai dengan hasil yang tidak mantap. "Saat itu kami juga berangkat dari situasi yang buruk," kata Rossi kemudian seperti dikutip oleh detik.com dari tuttosport.

Lebih lanjut dia mengatakan, "Tapi jangan pernah bilang mustahil. Ini memang situasi tak mudah, tapi selama masih ada secercah harapan, segalanya masih mungkin."

Kata-kata tersebut diucapkan oleh Rossi untuk menyemangati Valentino Rossi, pebalap MotoGP asal Italia. Mental Valentino Rossi sepertinya memang sedang drop setelah Sepang Clash. Velentino Rossi terkena hukuman sehingga haru memulai balapan dari urutan paling buncit di Valencia, Spanyol.

Situasi ini tentu saja sangat buruk bagi Valentino Rossi yang sedang berjuang untuk kembali menjadi juara dunia MotoGP. Poinnya hanya berselisih tujuh dengan Jorge Lorenzo, rekan satu timnya di Movistar Yamaha. Namun tentu hukuman tersebut membuat peluang Rossi menipis. Bahkan ia pun harus lempar handuk putih.

Rossi, Valentino Rossi maksudnya, pun tampak frustasi. Sejak balapan di Phillips Island, Australia, ia seperti bukan Rossi. Ia pun sempat menuding Marc Marquez, pebalap dari tim Repsol Honda, 'berkonspirasi' membantu rekan senegara Lorenzo untuk menjadi Juara Dunia MotoGP.

"Valentino, datangi Spanyol seperti ketika Italia datang ke sana untuk Piala Dunia 1982," kata Paolo Rossi. "Valentino sekarang harus menatap ke depan. Itu bisa jadi balapan luar biasa, perlihatkan kemampuan dirimu sebagai yang terhebat di sana."

Saya penggemar Valentino Rossi kendati sama sekali tak mengerti tentang sepeda motor. Sepanjang yang saya ingat, balapan tak menarik jika Valentino Rossi. Dia bukan sekedar membalap tapi juga mampu menghibur.

Saya sebenarnya mengharapkan Marquez menjadi pengganti Rossi. Namun setelah balapan di Phillip Island dan Sepang, saya merasa kecewa terhadap Marquez. Saya tidak ingin mengomentari seperti ahli apa yang terjadi di Sepang. Saya hanya suka saja melihat balapan.

By the way, sepertinya yang sebelumnya saya pernah tulis, akhirnya saya bisa mengira-ngira bagaimana rasanya jadi pendukung berat Presiden Jokowi atau mantan Calon Presiden Prabowo Subianto setelah melihat Sepang Clash. Cuma becanda, eh, serius ding. Ha... ha... ha...
.::setelah beberapa hari terakhir perbincangan sepang clash selalu muncul di kantor...

Selasa, 20 Oktober 2015

The Old Firm

GLASGOW Celtic dan Glasgow Rangers bisa dibilang dua tetangga yang tak pernah akur. Perseteruan antara suporter dua klub sepakbola Skotlandia ini lebih dari satu abad. Mereka dikenal sebagai Old Firm.
Belum jelas bagaimana istilah Old Firm ini bisa muncul. Dari wikipedia, istilah kemungkinan merujuk kepada istilah like two old, firm friends. Sementara Menurut Franklin Foer, penulis, istilah Old Firm karena sepertinya dua klub itu bersekongkol untuk menangguk untung dari rasa benci mereka satu sama lain. 
Pertarungan Celtic dan Rangers tak hanya sekadar sepakbola. Persaingan mereka begitu rumit. Pertandingan bisa menjadi isu agama, yakni Katolik dan Protestan. Kadang mereka juga merepresentasikan dukungan politik, antara loyalis dan republikan. 
Pertandingan antara dua klub juga bisa jadi taruhan identitas nasional, Inggris atau Irlandia. Atau, bisa jadi tentang ideologi sosial, antara konservatif dan sosialis. Konfrontasi pendukung klub dilabeli pertarungan sektarian.
Hari pertandingan antara Celtic dan Rangers menjadi waktu yang penuh dengan gesekan. Jumlah korban jiwa sudah banyak. Bahkan usaha dua klub di tahun 2005 untuk menghentikan kefanatikan dan sektarian dalam olahraga hanya menunjukkan sedikit kemajuan.
Tahun 2012, Parlemen Skotlandia mengesahkan The Offensive Behaviour at Football and Threatening Communications Act. Undang-undang ini untuk menekan perilaku ofensif pendukung sepakbola saat pertandingan dan pernyataan yang dikeluarkan melalu media.
Polisi pun punya lebih punya kewenangan tegas untuk menindak para suporter. Namun, setahun kemudian, protes terhadap undang-undang ini bermunculan. Kelompok pendukung Celtic dan Ranger menyatakan kepercayaan terhadap polisi menurun. 
Perseteruan antara kelompok pendukung sepakbola yang begitu keras tak hanya terjadi di Skotlandia. Di Spanyol pun tak kalah ramainya. Suporter klub dari Katalan, Barcelona, dan dari Basque, seperti Athletic Bilbao dan Real Sociedad, kerap menunjukkan rasa tak suka terhadap Real Madrid. 
Tahun ini, Real Madrid menolak pertandingan Final Copa del Rey di Santiago Bernabeu. Final tersebut mempertemukan Barcelona dengan Bilbao. Alasan Real Madrid puncak event tersebut bertabrakan dengan jadwal pertandingan tim Castilla alias junior di stadion megah itu. 
Namun ada dugaan penolakan Final Piala Raja ini dengan hubungan yang tak harmonis menggelar pertandingan di pusat ibukota Spanyol. Seperti diketahui, Katalan dan Basque memiliki hubungan yang buruk.
Tahun 2012, Real Madrid juga enggan kandang mereka, Stadion Santiago Bernabeu, dijadikan tempat pertandingan final Piala Raja,-juga-, antara Barcelona dengan Athletico Bilbao. El Real tentu punya alasan mengapa mereka menolak menjadi tuan rumah pada pertandingan tersebut.
Tahun 2009, Barca dan Bilbao bertemu dalam final kejuaran yang sama. Pertandingan diadakan di Mestalla, Valencia. Dan, apa yang terjadi sebelum pluit pertandingan ditiup wasit pada waktu itu, kedua pendukung kompak meneriaki lagu kebangsaan Spanyol. 
Ya, Real Madrid, Barcelona, Athletico Bilbao, seolah-olah menjadi identitas kebangsaan. Bukan rahasia, warga Katalan dan Basque ingin berpisah dari Spanyol. Dua bangsa ini merasa terjajah. 
Masih banyak lagi kisah-kisah klub sepakbola yang menjadi saluran perjuangan ideologi. Bukan hanya sekadar fanatisme. 
Lalu suporter klub sepakbola di Indonesia bikin rusuh karena apa? Jangan sampai, seperti tulisan Franklin Foer, kebencian itu disetir karena kebodohan, kecemburuan ekonomi, atau hanya karena perasaan inferioritas yang mendalam.
Kekerasan bisa terlahir dari kebencian. Dan, bisakah kita membunuh kebencian sejak di pikiran?
.:: alhamdulillah, Persib juara, deui..

Rabu, 24 Juni 2015

Teddy Stoddard, Ibu Guru Thompson, dan Johannes Gutenberg

TEDDY Stoddard tak seperti murid-murid lainya. Ibu Guru Thompson yang menjadi wali kelasnya di kelas lima menggambarkan Teddy terlihat acak-acakan. Baju yang dipakainya kotor dan Teddy sepertinya tak pernah mandi.

Masalah Teddy tak sampai di situ. Dia juga menarik diri dari pergaulan teman-teman sekolahnya. Prestasi di sekolahnya pun buruk. Dia tak pernah menyelesaikan pekerjaan rumah dari sekolah dengan baik.

Namun Ibu Guru Thompson tak memperlakukan Teddy sebagai anak buangan. Apalagi setelah membaca latar belakang si anak yang ternyata siswa yang cerdas. Perilaku Teddy berubah setelah duduk di kelas tiga. Ibunya meninggal dunia saat itu.

Saat Natal tiba, para siswa memberikan kado kepada Ibu Guru Thompson. Kado-kado yang indah dibungkus dengan sampul warna-warni dan pita nan cantik. Teddy pun tak ketinggalan memberikan kado kepada wali kelasnya itu.

Kado dari Teddy dibungkus ala kadar saja. Tawa teman-teman Teddy pecah saat Ibu Guru Thompson membuka kado tersebut. Isinya satu botol parrfum yang terisi setengah saja. Hadiah lainnya adalah gelang yang manik-maniknya telah tiada.

Ibu Guru Thompson kemudian mengoleskan parfum dan mengenakan gelang. Ibu Guru Thompson berkata, betapa indahnya hadiah dari Teddy. Tawa murid-muridnya pun terhenti.

Ketika kelas berakhir, Teddy tak langsung pulang. Setelah teman-temannya pergi, dia menghampiri Ibu Guru Thompson. Dia kemudian berkata, "wangi Ibu, seperti Ibu saya dulu."

Ibu Guru Thompson kemudian menangis hampir selama satu jam. Dia menyadari bahwa dia seharusnya mengajar anak-anak, bukan hanya mengajarkan pelajaran. Dan, sejak saat itu, Teddy pun kembali seperti sedia kala.

Cerita belum berhenti. Setahun kemudian Ibu Guru Thompson menerima surat dari Teddy. Surat yang diselipkan di bawah pintu itu berisi, Ibu Guru Thompson adalah guru terbaik.

Enam tahun kemudian, Ibu Guru Thompson menerima lagi surat dari Teddy. Teddy telah lulus sekolah menengah atas dengan nilai terbaik. Di akhir surat, Teddy menulis, Ibu Guru Thompson adalah guru terbaik.

Empat tahun setelah itu, sang Murid menulis, ia telah lulus dari perguruan tinggi dengan hasil sangat memuaskan. Teddy tetap tak lupa menulis, jika Ibu Guru Thompson tetap guru terbaik.

Maju empat tahun kemudian, Ibu Guru Thompson kembali menerima surat yang ditandatangani oleh Theodore F Stoddard, MD. Ia meminta, Ibu Guru Thompson menjadi pendamping pernikahannya.

Di hari pernikahan Teddy, Ibu Guru Thompson memakai parfum dan gelang pemberian sang Murid.

Saat memeluk Ibu Guru Thompson Teddy mengatakan, "Terima kasih, Bu Thompson, Ibu mempercayai saya. Terima kasih banyak untuk membuat saya merasa penting dan menunjukkan bahwa saya bisa membuat perbedaan. "

Ibu Guru Thompson, dengan air mata di matanya, berbisik, "Teddy, kamu salah. Kamu lah orang yang mengajarkan saya bahwa saya bisa membuat perbedaan. Aku tidak tahu bagaimana cara mengajar sampai bertemu denganmu."

Kisah yang mengharukan tapi indah.



*** 
Saya jadi teringat guru Bimbingan dan Penyuluh (BP) di SMP dulu. Ia mengatakan, jika siswa melakukan kesalahan, janganlah fokus pada apa yang siswa itu lakukan, tapi mengapa melakukan itu.

Ok, saya membaca kisah tentang Teddy Stoodard setelah seorang teman 'membagikanya' di linimasa facebook. Saya biasanya mengabaikan cerita-cerita yang dibagikan di linimasa facebook karena belum tentu kebenaranya. Namun tidak untuk yang ini.

Dengan keterbatasan kemampuan Bahasa Inggris (ngomong-ngomong, cerita yang dibagikan teman saya ini dalam Bahasa Inggris), saya merasa terharu.

Saya beberapa kali mengusap mata saya. Mata saya berkaca-kaca untuk beberapa bagian cerita, seperti saat si Ibu Guru memakai parfum dan gelang pemberian Teddy, atau saat di acara pernikahan Teddy.

Kendati demikian, saya tetap penasaran, apakah Teddy Stoddard atau kemudian Theodore F Stoddard MD itu memang benar-benar ada? Seperti saya katakan, jika saya memabaca sesuatu dari facebook, saya tidak akan menelan mentah-mentah.

Sampai akhirnya saya menemukan artikel ini http://jacksonville.com/reason/fact-check/2014-01-31/story/fact-check-heartwarming-story-teddy-stoddard-true. Tulisan ini juga mengambil dari sejumlah sumber.

Cerita tentang Teddy Stoddard dan Ibu Guru Thompson ini pertamakali dipublikasikan dalam majalah HomeLife tahun 1976. Penulisnya Elizabeth Silance Ballard. Di majalah tersebut, cerita ini diberi tanda fiksi.

Dalam wawancara Dennis Roddy dari The Pittsburgh Post-Gazette tahun 2001, Ballard mengatakan, ceriita tersebut diambil dari potongan-potongan cerita. Namun dia mengaku kecewa karena cerita itu terus beredar sebagai kisah nyata.

Ya, biarpun cerita ini fiksi, jelas memberi pengaruh yang besar kepada orang banyak.

Eh, tiba-tiba saya teringat kata-kata ini; kebohongan yang berulang-ulang bisa jadi kenyataan. Tapi, dalam kisah Teddy Stoddard dan Ibu Guru Thompson, mungkin ini yang disebut 'white lie' karena mampu menginspirasi? Saya tak tahu.

***

Kita berada di era Gutenberg, kata Jeff Jarvis, seorang profesor dan jurnalis. Gutenberg yang maksud tentu saja mesin cetak yang 'ditemukan' oleh Johannes Gutenberg. Dengan mesin cetak itu, surat kabar atau buku bisa dicetak secara massal.

Tak semua orang bisa memiliki mesin cetak itu. Atau jika pun mampu membeli, buat apa?

Namun sekarang tak harus memiliki mesin cetak untuk mempublikasi sebuah berita. Seperti kata Jarvis dalam acara StarTalk yang disiarkan di National Geographic dan dipandu Neil deGrasse Tyson, 'Pers Guttenberg' sekarang dalam saku.

Kita bisa mempublikasikan informasi, baik itu opini, sendiri. Tak perlu lagi mesin cetak. Cukup punya punya telepom genggam atau tablet. 'Tool-nya bisa saja blog, facebook, twitter, atau instagram.

Jarvis bahkan mengatakan, masa media massa sudah diambang akhir. Mesin cetak yang ditemukan 600 ratus tahun lalu memang telah mengubah dunia. Mengubah cara pandang masyarakat tentang dunia. Informasi dikumpulkan dalam satu, yakni surat kabar.

Namun perubahan adalah mutlak. Sekarang tinggal klik dan klik....

Dalam acara itu, Neil Tyson juga mewawancarai Arianna Huffington, pendiri The Huffington Post. Saya suka kutipan ini; "If you look at the way people use social media a lot of it is artificial. And someone said, there is no human being who is as happy as an Instagram, no human being who is as upset, outraged and miserable as on Twitter, and nobody who is as employable as on Linkedln. ...So there is a little bit of a manufactured identity."

Bagi saya, dalam kehidupan nyata pun kita bisa memanipulasi diri sendiri, apalagi dalam sosial media. Ada yang saleh, taat, pemarah dan ....

Pada akhirnya, seperti bos saya di kantor katakan, waktu akan menguji kredibilitas. Apakah yang kita sampaikan jujur?


***

P.S Jangan pernah percaya dengan apa yang ditulis di atas! :D

Sabtu, 30 Mei 2015

Sang Raja dan Hukumnya

Pele mengiklankan restaurant cepat saji. (Foto: Sportsbusinessdaily)
EDISON Arantes do Nascimento. Terlalu rumit untuk mengingat nama itu? Ok, sebut saja Pele. Dia lah O Rei atau sang Raja. Legenda sepakbola asal Brasil yang membuat negaranya merengkuh Piala Jules Rimet setelah tiga kali menjuarai Piala Dunia.

Setelah pensiun dari sepakbola, Pele wara-wiri dalam ragam iklan. Tahun 1995, Fernando Henrique Cardoso, Presiden Brasil 1995-2003, mengangkat sang Raja menjadi Menteri Luar Biasa Olahraga. Ia mundur sebagai menteri tiga tahun kemudian setelah menggolkan undang- undang olah raga yang kemudian dikenal Pele Law.

UU Pele ini merupakan terobosan hukum yang mengubah wajah kelam olahraga, terutama sepakbola Brasil, dari yang penuh korupsi menuju sepakbola menuju industri yang menjanjikan. UU ini melawan cartolas atau beropi tinggi, yakni pemilik klub.

Franklin Foer, dalam bukunya How Soccer Explains the World: The Unlikely Theory of Globalization yang kemudian diterbitkan di Indonesia oleh Marjin Kiri tahun 2006, menggambarkan UU Pele ini serangkaian reformasi ala IMF untuk sepak bola.

UU Pele mengatur klub sepakbola beroperasi seperti badan usaha kapitalis yang transparan dengan pembukuan yang terbuka dan manajer yang bisa dimintai pertanggungjawabkan. Para pemain pun mempunyai hak. Hak siar televisi pun menguntungkan semua pihal, termasuk pemain.

Tak ada yang meragukan prestasi sepakbola Brasil. Tuhan memberikan anugerah talenta yang luar biasa kepada para pemain sepakbola negara itu. Namun Pele yang terakhir bermain di klub New York Cosmos, melihat bagaimana karut marut pengelolaan sepakbola.

Perlu tiga tahun setelah digolkan di kongres, UU Pele ini bisa diterapkan. Dari Wikipedia, Campeonato Brasileiro Série A, liga sepakbola utama Brasil, mengalami pertumbuhan mulai tahun 2001.

Namun bukan berarti liga Serie A Brasil ini tanpa cacat. Musim kompetisi tahun 2005, sebelas pertandingan dibatalkan karena skandal pengaturan pertandingan dan harus diulang.

Upaya Pele untuk membuat undang-undang keolahragaan juga ternyata ternoda. Franklin Foer menceritakan, bagaimana reaksi penggiat antikorupsi juga mulai menguak masa dinas Pele sebagai Menteri Luar Biasa Olahraga. Pele yang jelas bukan orang yang idealis.

Foer menulis, batang tubuh dalam UU Pele tersebut disusun oleh mitra bisnis Pele. Mereka pun tanpa sungkan mengakui bahwa mereka mengharapkan keuntungan dari UU tersebut.

Foer kemudian mengutip sebuah studi tentang korupsi dari Edward Banfield. Dalam The Moral Basis of a Backward Society, Banfield menguraikan, KKN terburuk lahir dari masyarakat yang paling terikat rasa kekeluargaan dan beban kewajiban antar anggotanya terasa kuat. Pele dan Brasil mewakilinya. Tak ada gading yang tak retak

Terlepas dari itu semua, dari Wikipedia, tahun 2012, Serie A Brasil membukukan pendapatan 1.17 miliar dolar. Pendapatan ini yang paling tinggi di antara liga-liga sepakbola di daratan Amerika. The Brasileirao, demikian liga ini lebih dikenal, memiliki brand yang kuat dan memiliki nilai 1.24 miliar dolar pada tahun 2013. Dari hak siar, liga ini mendapat 610 juta dolar.

Lalu Sepakbola Indonesia?

Hari Kelam di Zurich

SEPP BLATTER/GETTY IMAGE
SEPP Blatter akhirnya terpilih kembali sebagai Presiden FIFA untuk kelima kali secara beruntun pada pemilihan yang berlangsung di Zurich, Swiss, Jumat, 29 Mei 2015. Luis Figo, kandidat Presiden FIFA yang mengundurkan diri sepekan sebelum pemilihan berlangsung, tak bisa menyembunyikan kekecewaanya.

"Hari ini merupakan hari kelam di Zurich," kata Figo yang juga mantan pemain nasional Portugal, mengomentari hasil pemilihan tersebut.

Pemilihan Presiden FIFA kali ini dibayangi dengan skandal yang mengguncang organisasi tertinggi sepakbola dunia itu. Tujuh petinggi FIFA ditangkap FBI dua hari sebelumnya karena diduga terlibat dalam korupsi dan pencucian uang pada 1991. Tak sedikit yang menganggap inilah waktu bagi Blatter untuk mengakhiri jabatannya.

Kenyataan bisa terasa pahit, tapi juga sebaliknya; manis. Penangkapan terhadap petinggi FIFA tidak bisa menghentikan Blatter. Nate Scott dalam USA Today menulis, Blatter telah menghadapi tuduhan sebelumnya. Dia tahu cara untuk terus bergerak. Dia tidak pernah menunda pemilihan karena ia tahu akan menang. Dan, itulah yang dia lakukan.

Scott mengemukakan alasan, mengapa Blatter bisa dengan mudah memenangi pemilihan presiden FIFA. Blatter meraup 133 suara dari 209 orang. Pangeran Ali bin Al-Hussein dari Yordania bisa saja memaksakan putaran kedua, namun kemudian sang Pangerab mengundurkan diri. 

Blatter memiliki kontrol yang kuat terhadap banyak negara di FIFA. Ini alasan pertama.

Pemilihan presiden FIFA punya tidak seperti pemilihan umum biasanya. Scott mencontohkan, pemilihan di negaranya, Amerika Serikat, di mana negara-negara bagian yang jumlah penduduknya lebih banyak, bisa mendapat wakil lebih banyak di kongres. Saya andaikan dengan istilah proporsional antara wakil dengan populasi.

Asosiasi sepakbola suatu negara memiliki satu suara, tak menghitung dengan jumlah pemain sepakbola atau klub-nya. Jerman dengan jumlah pemain lebih dari enam juta, hanya memiliki satu suara seperti Mikronesia yang hanya memiliki jumlah penduduk tak lebih dari 100 ribu orang.

Itulah sebabnya, Blatter tak peduli kehilangan suara dari Amerika Serikat atau negara-negara Eropa yang lebih memilih Pangeran Ali. Suara negara-negara kecil sama nilainya  dengan negara- negara tersebut.

Alasan kedua, Blatter menguasai negara-negara dengan penyaluran dana FIFA.

Bukan hanya suara yang sama, 209 negara anggota FIFA juga mendapatkan dana yang sama. Tidak peduli berapa banyak pemain sepakbola di sebuah bangsa, mereka akan mendapatkan jumlah uang yang sama dari FIFA.

Scott kembali mencontohkan Jerman. Katakanlah, FIFA menyalurkan dana tiga juta dollar, maka setiap pemain di Jerman,--jika jumlahnya enam juta pemain--, maka akan mendapatkan 50 sen. Bandingkan dengan Guenea yang jumlah penduduknya 700 ribu. Belum menghitung jumlah pemainya. Duit yang asosiasi sepakbola Genea mendapatkan tiga juta dolar.

Scott pun menyimpulkan, hingga nama Blatter belum ada dalam dakwaan, maka FIFA tetap akan berada dalam kekuasannya. Blatter tahu akan menang.

Selasa, 30 Desember 2014

Selalu Ada Harapan

NET
ZHANG Nan kesal bukan kepalang. Pemain bulutangkis asal Tiongkok ini membantingkan raketnya hingga bengkok usai pertandingan melawan pasangan Indonesia, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Greysia Polii pada Indonesia Open, Juni 2014 lalu. Zhang yang berpasangan dengan Zhao Yunlei kalah.
 

Indonesia selalu punya harapan pada bulutangkis. Bintang-bintang baru baru bermunculan di bidang ini. Kevin Sanjaya Sukamuljo, Selvanus Geh, Alfian Eko Prasetya, dan Annisa Saufika mampu bersinar di Vietnam International Challenge dan Selandia Baru GP pada September dan April tahun ini.
 

Kevin yang baru berpasangan dengan pemain seniornya, Greysa Polii, pada gelaran Indonesia Open kala itu berhasil mengempaskan pasangan nomor satu Zhang dan Zhao. Kendati prestasi para atletnya masih turun naik di tahun 2014, namun para pemain tepok bulu angsa ini bukanlah pemberi harapan palsu (PHP) bagi rakyat Indonesia.
 

Setelah hampir 20 tahun, ganda putra Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan, serta ganda campuran Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad berhasil tuai prestasi di kejuaran All England pada Maret 2014. Prestasi tersebut merupakan catatan terbaik di ajang tertua bulutuangklis sejak tahun 1994.
 

Sayangnya, Tim Uber dan Thomas Indonesia gagal meraih prestasi seperti pada tahun 2002. Namun pada helatan Asian Games di Incheon, Korea Selatan, pasangan ganda putri Indonesia Greysia Polii/Nitya Krishinda berhasil meraih emas. Hendra dan Ahsan pun menorehkan prestasi yang sama.

.:: sumber Tribun Manado, Selasa, 30 Desember 2014 ::.

Kami Rindu Juara

Foto: TRIBUNNEWS
INDRA Sjafri memeluk Evan Dimas. Dalam dekapan sang Pelatih, tangisan Kapten Tim Nasional U-19 Indonesia tak langsung terhenti. Indra kemudian mendatangi satu per satu anak asuhanya yang masih tampak gontai di lapangan setelah kekalahan melawan Tim Nasional Australia pada Piala Asis di Myanmar, 12 Oktober 2014.   

Harapan tinggi disematkan kepada para pemain muda itu. Setahun sebelumnya, skuat Garuda Jaya berhasil menjuarai Piala AFF U-19 dengan mengadaskan Vietnam di final. Mereka pun menunjukka permainan yang menawan. Bahkan, permaianan mereka lebih 'dewasa' dibandingkan dengan para seniornya.
 

Namun beban tersebut membuat mereka gagal bersinar pada Piala Asia U-19 2014. Mereka tak bermain lepas. Tiga laga yang mereka harus jalani pada fase grup berakhir kekalahan. Mereka menyerah dari Uzbekistan 1-3 dan kalah dari Australia 0-1. Di pertandingan terakhir, kembali menyerah 1-4 dari Uni Emirat Arab.
 

Sepakbola selalu riuh di Indonesia. Tapi, seperti tahun-tahun sebelumnya, 2014 juga bukan tahun keberuntungan bagi Timmas Indonesia. Pada Asian Games 2014, September lalu, Timnas U-23 sempat memberikan harapan dengan kemenangan beruntun. Namun pada pertandingan ketiga kalah dan saat 16 besar harus mengakui keunggulan Timnas Korea Utara.
 

November 2014, Timnas Senior gagal penuhi target masuk final pada Piala AFF 2014. Kekalahan 0-4 dari Filipina membuat heboh pecinta sepakbola tanah air. Filipina selalu menjadi bulan-bulanan Indonesia, namun beberapa tahun terakhir ini justru Timnas Indonesia selalu kerepotan, bahkan kalah.
 

Namun kekalahan dari Filipina ternyata tak begitu berpengaruh terhadap posisi Indonesia di ranking FIFA. Pada bulan November 2014, Indonesia berada di posisi 157 dunia. Indonesia naik peringkat bila melihat posisi di bulan Januari. Di awal tahun ini posisi Indonesia berada di 161 dunia.
 

PSSI sebagai induk sepakbola di Indonesia menjadi sorotan dari kegagalan yang terus menerus ini. Desember 2014, wacana pembekuan PSSI muncul. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi berencana untuk membentuk sebuah tim merevitalisasi sistem manajemen dan kebutuhan anggaran dalam sepak bola Indonesia.
 

Entah dimana ujungnya; prestasi atau kian terpuruk. Namun memupuk rasa optimisme itu keniscayaan kalau kita rindu juara.

.:: sumber Tribun Manado, Selasa, 30 Desember 2014 ::.

Isak Tangis Brasil

FOTO: GETTY IMAGE
PARA pemain Brasil terkulai usai wasit asal Meksiko, Marco Rodriguez, meniup pluit tanda pertandingan semi final Piala Dunia 2014 di Stadion Mineirao pada 8 Juli berakhir. Sebagian pemain tak kuasa menahan air mata. David Luiz, pemain belakang Brasil, terisak-isak. 

"Saya hanya ingin membawa kebahagian bagi warga (Brasil). Mereka telah menderita karena persoalan-persoalan lain yang menimpa. Maafkan semuanya, maafkan rakya brasil," kata Luis yang menjadi Kapten Brasil pada pertandingan melawan Tim Nasional Jerman itu.
 

Suara Luis bergetar. Bulir bening keluar dari kedua mata pemain berambut kribo ini. Air mata itu terus mengali melewati pipinya dan kemudian terjatuh. "Saya hanya ingin membuat mereka tersenyum," kata pemain yang saat ini bermain untuk klub asal Perancis, Paris St-Germain.
 

Jerman yang berhasil mengalahkan Brasil di semifinal kemudian menjadi Juara Piala Dunia 2014. Tim Nasional atau Die Mannschaft menjadi negara asal Eropa pertama yang keluar sebagai juara di Benua Amerika setelah mengalah Argentina. Namun, kekalahan Brasil dari Jerman dengan skor 7-1 justru menjadi hal yang paling mencengangkan.
 

Sebagai tuan rumah, Brasil punya optimisme yang kuat untuk bisa meraih Piala Dunia ke-6. Pelatih Brasil saat itu, Luiz Felipe Scolari, tetap yakin para pemainya bisa menundukkan Jerman kendati tanpa diperkuat pemain andalanya, Neymar, dan sang Kapten, Thiago Silva. Namun, ia harus menerima kenyataanya.
 

"Saya kira, ini adalah hari terburuk dalam hidup saya," kata Scolari.

Duka bukan hanya milik pelatih dan para pemain saja. Sorotan kamera televisi menunjukkannya. Seorang anak laki-laki pendukung Brasil terlihat menangis tersedu-sedu. Susutan tangan di balik kacamatanya tak mamapu mengeringkan air mata. Sementara seorang kakek berkumis tebal hanya temangu memegang duplikat Piala Dunia.
 

Presiden Brasil Even Dilma Rousseff, bahkan menunjukkan kesedihanya dengan menuliskan 'kicauanya' di Twitter. "Saya memohon maaf dengan sangat kepada semuanya," tulisnya.
Kendati kalah di semifinal, bahkan hanya menempati urutan keempat, Brasil telah menunjukkan upayanya sebagai tuan rumah yang baik. Sekitar Rp 165 triliun digelontorkan untuk membiayai pagelaran setiap empat tahunan ini.
 

Di antara protes warganya yang menganggap penyelenggaraan Piala Dunia sebagai pemboroson, namun helatan tersebut dianggap paling menghibur. Tercipta 136 gol pada tercipta pada fase grup, atau enam gol lebih banyak dibandingkan helatan yang sama pada tahun 2002 di Jepang dan Korea Selatan. Total 171 gol tercipta dari seluruh pertandingan.
 

Hal unik lainya yang terjadi pada Piala Dunia 2014 ini adalah gigitan Suarez. Pemain Tim Nasional Uruguay Luiz Suarez  menggigit pemain belakang Giorgio Chiellini yang membuatnya harus keluar dari Piala Dunia 2014. Meme atau gambar lucu pun kemudian bermunculan setelah gigitan itu.
 

Ternyata bukan hanya sekali itu saja striker ini menggigit lawanya. Daily Star melaporkan telah delapan kali menggigit pemain, bukan tiga pemain seperti yang selama ini diberitakan. Selain Chiellini, Ottman Bakal, Branislav Ivanovic, menurut Daily Star, ada lima dugaan gigitan lainya sebelum ia terkenal.
 

Piala Dunia menjadi sorotan dunia pada tahun tahun ini. Sepakbola juga masih menjadi favorit bagi warga Indoneisia. Namun, bukan pretasi yang ditorehkan, Tim Nasional Indonesia senior gagal di Piala AFF. Bahkan, Tim Nasi Usia 19 Tahun yang sebelumnya memberikan harapan gagal juga gagal.
 

Sementara di Liga Super Indonesia, Persib Bandung kembali merengkuh gelar juara setelah menunggu 19 tahun. Bandung menjadi lautan biru saat para bobotoh merayakan keberhasilan tersebut.

.:: sumber Tribun Manado, Selasa, 30 Desember 2014 ::.

Minggu, 28 Desember 2014

Selamat Malam Malaysia 370

"SELAMAT malam Malaysia tiga tujuh nol." Ucapan ini menjadi komunikasi terakhir antara pengawas lalu lintas udara dan pesawat Malaysia Airlines yang hilang 8 Maret 2014 seperti dirilis Pemerintah Malaysia.

Pesawat Boeing 777-200ER yang terbang dari Bandara Internasional Kuala Lumpur tak pernah sampai ke Bandara Internasional Ibu Kota Beijing. Hilang secara misterius. Terakhir kali melakukan kontak dengan pengawas lalu lintas udara kurang dari satu jam setelah lepas landas.

Pesawat ini mengangkut 12 awak dan 227 penumpang dari 15 negara, kebanyakan di antaranya adalah warga negara Tiongkok. Hari itu juga, pencarian dan penyelamatan dilakukan di Teluk Thailand dan Laut Tiongkok Selatan.

Hilangnya pesawat ini kemudian menjadi drama. Keluarga penumpang frustasi. Sehari setelah pesawat hilang, pencarian diperluas dengan melibatkan sejumlah negara. Kemudian bergabung negara-negara lainya sehingga total 26 negara terlibat pencarian. Upaya penyelamatan terbesar yang pernah dilakukan dalam sejarah.

Kabar tentang kemungkinan keterlibatan penumpang muncul setelah dua penumpang asal Iran terbukti menaiki pesawat dengan paspor curian. Namun Interpol menyebutkan, dua identitas palsu dalam manifest tidak terkait dengan hilangnya pesawat

Tanggal 20 Maret, pesawat dan kapal dikirim ke Samudera Hindia Selatan setelah serangkaian foto satelit yang memperlihatkan kemungkinan adanya serpihan pesawat di sebelah barat daya Australia, tepatnya di ujung paling tenggara lokasi selatan.

Serpihan lain di sekitarnya terlihat oleh pesawat militer Australia dan Tiongkok pada 24 Maret. Meski keberadaannya masih tidak diketahui, pejabat Malaysia Airlines dan Pemerintah Malaysia percaya pesawat ini jatuh di Samudra Hindia Selatan tanpa ada yang selamat.

Empat bulan kemudian, insiden kembali menimpa Malaysian Airlines. Pesawat Malaysia Airlines Boeing 777 dengan nomor penerbangan MH17 yang membawa 283 penumpang dan 15 awak pesawat jatuh di Ukrania dekat perbatasan Rusia pada 17 Juli 2014.

Pesawat ini tinggal landas dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur. Kantor berita Interfax mengabarkan, pesawat telah ditembak di atas ketinggian 10 kilometer di atas Ukraina bagian timur.

Insiden yang menimpa dua pesawat Malaysian Airlines ini menyita perhatian dunia. Pada tahun 2014, wabah penyakit karena virus Ebola serta munculnya Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) juga tak kalah menghebohkan. Dan, di pengujung tahun, kerusuhan rasial terjadi di Ferguson, Amerika Serikat.


.:: sumber Tribun Manado, Sabtu, 27 Desember 2014 ::.