Duduk kita di
tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling
menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan
penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan
cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan
bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin
lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS (Tuhan
Sembilan Senti; Taufik Ismail)**
www.air-zone.com
Salesma mulai
menyerang saat saya iseng-iseng minta bantuan om google untuk
menemukan hubungan antara keuntungan ekonomi negara (Indonesia) dengan
produksi rokoknya. Sambil menyeka hidung yang mulai meler, saya
membayangkan seandainya negara terbebas dari industri rokok. Apakah
Indonesia akan bangkrut jika tanpa rokok? (Keren juga,
ya, mikirin negara. ha... ha... ha....) Akhirnya,
saya membuka membuka blog ini http://bebasrokok.wordpress.com/. Beberapa
postingan menarik hati karena berhubungan dengan apa yang saya cari.
Seperti ini;
http://bebasrokok.wordpress.com/2012/06/19/rokok-sebenarnya-bikin-negara-tekor/.
Namun, saya terus sorot kursor ke bawah sampai mendapatkan puisi karya
Taufiq Ismail berjudul Tuhan Sembilan Senti. Dan, hati saya tertambat
pada puisi ini. Hitungan ekonomi bagi perokok mungkin
tidak akan menggugah hati untuk sekedar berhenti merokok saat ada anak
kecil di sampingnya atau dalam ruangan yang penuh sesak. Bahkan, perokok
biasanya akan merasa menang jika dia mulai balik bertanya seperti ini,
"Apakah merokok bisa membuatmu kaya?" Perokok tentu punya
alasan yang logis atau mungkin naif untuk menyangkal jika disodorkan
fakta seperti ini, "... cukai rokok tahun 2010 sekitar 50 triliun dan
naik menjadi 70 triliun di tahun 2011. Sedangkan biaya yang harus
dikeluarkan untuk rokok dan akibat-akibatnya, bisa mencapai 230 triliun.
" Bagi sebagian orang-orang, data-data statistik mungkin
bisa memukau. Tapi, peduli setan, kalau angka-angka tersebut akan
merugikan kesenangannya. Mana peduli jika biaya yang dikeluarkan untuk
membakar rokok selama 10 tahun sudah bisa dipakai untuk membiayai
berangkat haji ke tanah suci. "Kau tidak merokok, tapi belum juga bisa
berangkak haji." Ya, hati saya berubah. Semula saya
berharap bisa membuat catatan dengan judul "Seandainya Negara tanpa
Rokok, akhirnya terpukau dengan puisi tersebut. Saya tak mau menafsirkan
puisi karena rasanya saya tidak pantas melakukan itu. Ya, cukup
mengagumi pesannya yang disampaikan secara jelas. 25
penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15
penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging
khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada
sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan? .::
saat penggemar manchester united bersorak di warung kopi sinindian,
kotamobagu, 15.9.2012. *Teragitasi Bang Charles
untuk jadi pengutuk tuhan sembilan senti heheheh.... **
http://bebasrokok.wordpress.com/2011/11/01/tuhan-sembilan-senti/
AKANG merupakan panggilan untuk kakak laki-laki dalam Bahasa
Sunda. Kata tersebut juga untuk memanggil orang yang lebih tua namun
usianya diperkirakan tak terlalu jauh. Atau panggilan istri kepada
suami. Di kampung saya,-nun di di Leles sana-, Akang juga digunakan
untuk memanggil seorang 'Ajengan' atau da'i yang suka memberikan ceramah
agama.
Panggilan akang kepada ajengan tersebut sebagai bentuk penghormatan
masyarakat atas keilmuanya di bidang agama. Warga kampung tak
sembarangan menyematkan akang atau ajengan. Waktu yang membuktikan bahwa
sang pendakwah tersebut layak disebut ajengan. Intensitas pelayanan
keagamaan kepada masyarakat dan kapasitas keilmuanya harus teruji.
Seseorang yang telah 'masantren' atau belajar di pesantren tak
ujug-ujug digelari ustadz, ajengan, apalagi ulama atau kyai. Tak ada
gelar setelah seseorang masantren. Butuh proses yang panjang dan
masyarakat yang mengujinya langsung. Bila ada yang melabeli dirinya
sendiri sebagai ustadz, maka cibiran yang mungkin akan dituainya.
Begitu banyak ustadz-ustadz di televisi, namun bagi orang kampung
hanya satu atau dua orang saja yang diakui keilmuanya. "Maca Qur'an-na
wae teu baleg. Malahan (gayana) leuwih ciga artis (Baca Qur'an saja
tidak benar. Malah gayanya seperti artis)," ujar seorang tetangga saya
di kampung.
***
Saya tersentak ketika ada wacana sertifikasi ulama, da'i atau
ustadz. Berita-berita tentang sertifikasi ulama lebih menarik hati saya
ketimbang berita-berita teror yang selalu muncul ketika ada isu-isu
besar lainya. Saya merasa aneh dengan wacana tersebut.
Kekerasan atas nama apa pun tentu tak dibenarkan. Namun respon
terhadap kekerasan dengan wacana sertifikasi ulama rasanya keterlaluan.
Respon ini seperti meneguhkan Islamophobia. Membuat orang takut bila
dihubung-hubungkan dengan Islam.
Jika hal tersebut terlaksana, maka akan ada lembaga sertifikasi bagi
ulama. Wah, ini proyekan baru. Bukan hanya masalah duit yang mungkin
bisa 'dimainin', tapi kompetensi orang-orang yang dalam lembaga yang
akan memberi 'cap bersertifikat' kepada ulama tersebut. Ngurus yang naik
haji sudah berpuluh-puluh tahun tidak bener-bener.
Bahaya lainya adalah, ustadz, ulama, da'i atau kyai justru lebih
mengejar sertifikat dari pada meningkatkan komptensi keilmuanya. Apa
yang terjadi ketika pemerintah menerapkan sertifikasi kepada guru bisa
terjadi kepada mereka. Alih-alih mengejar profesionalisme, guru-guru
yang sempat saya wawancarai justru lebih mengejar tunjanganya ketika
mereka ikut sertifikasi. Itu manusiawi, tentu saja.
Saya harap wacana sertifikasi ulama ini sebagai lelucon untuk
mengendorkan urat syaraf yang tegang. Bayangkan, jika ada panggilan
'ustadz bersertifikasi' atau 'ustadz nonsertifikasi', lucu juga, kan?
Ah, sudah pagi ternyata. Biar semangat pagi, setel lagu 'wake up'
dulu dari RATM dan berpura-pura beraksi seperti sang vokalis, Zack de la
Rocha, saat nge-rap he... he... he....
"...ya they murdered X and tried to blame it on Islam.../ wake up, wake up, wake up... "
Real Madrid enggan kandang mereka, Stadion Santiago Bernabeu, dijadikan tempat pertandingan final Piala Raja antara FC Barcelona dengan Athletico Bilbao yang akan berlangsung 25 Mei mendatang. El Real tentu punya alasan mengapa mereka menolak menjadi tuan rumah pada pertandingan tersebut.
Tahun 2009, Barca dan Bilbao bertemu dalam final kejuaran yang sama. Pertandingan diadakan di Mestalla, Valencia. Dan, apa yang terjadi sebelum pluit pertandingan ditiup wasit pada waktu itu, tentu tak ingin terulang di stadion megah yang berada di Ibu Kota Spanyol tersebut.
Saat itu, kedua pendukung kompak meneriaki lagu kebangsaan Spanyol. Ya, Barcelona yang berasal dari Katalan dan Bilbao dari Basque, sama-sama merasa jajahan Spanyol. Sejarah, kultur, politik, bahasa hingga bendera tak akur dengan Spanyol.
Namun demikian, kendati kedua bangsa itu mempunyai kebencian yang 'patologis' kepada Spanyol, ekpresi mereka dalam beberapa hal jauh berbeda. Basque terkenal lebih keras dan kadang tak canggung menggunakan senjata untuk untuk meneror.
Di pihak lain, orang Katalan lebih kalem. Suporter Barcelona, kata Franklin Foer, wartawan dan penulis buku, bisa mencintai sebuah klub dan negara dengan penuh gelora tanpa harus berubah menjadi begundal atau teroris.
Untuk menggantikan nasionalisme, warga Katalan menawarkan kosmopolitan. "Patriotisme dikandangkan, dan pranata-pranata serta hukum-hukum internasional diberlakukan pada pemerintahan," tulis Foer dalam buku berjudul 'Memahami Dunia Lewat Sepakbola'.
Foer menjelaskan, kunci sikap orang Katalan adalah watak 'seny' yang bisa diterjemahkan sifat di antara pragmatisme dan kecerdikan. Namun mereka juga mempunyai watak rauxa, yakni kecenderungan untuk meledak-ledak ganas. Keduanya layaknya Yin dan Yang.
Ada cerita yang akan bikin tersenyum untuk menggambarkan watak seny dan rauxa. Dua orang Katalan di sebuah penjara Jenderal Franco, sang diktator pemimpin Spanyol masa silam sekaligus pendukung Real Madrid. Mereka berhasil kabur dengan cerdik dari penjara tersebut.
Tujuan mereka meloloskan diri untuk menonton Barca melawan Real Madrid di Camp Nou. Tak sia-sia perjuang mereka menyaksikan pertandingan yang dimenangkan Barcelona. Mereka mendapatkan kebebasan sekaligus kemenangan.
Saya tentu akan memegang erat kebebasan tersebut. Namun apa yang terjadi pada dua orang ini? Rauxa mereka telah terobati setelah kemenangan Barca, lalu mereka kembali ke penjara dan menyerahkan diri. Demikian seperti dikisahkan Foer.
Bagi saya, bukan banyaknya tropi atau gelar alasan menggemari Barcelona, tapi juga sejarah dan semangat Katalan. Barcelona bukan sekedar klub, mas que un club!
.:: ga bisa tidur setelah barca tak lolos ke final champ eropa. Isuk-isuk di Kotobangon, 25 April 2012 ::.
LIBERIA tidak hanya ada di Benua Afrika, tapi ada juga di daerah Bolaang Mongondow (Bolmong). Dan, jangan bayangkan Liberia di Kecamatan Modayag, Kabupaten Bolmong Timur (Boltim) ini gersang atau pernah dilanda perang saudara.
Liberia di Boltim yang kini menjadi dua desa tersebut mempunyai cuaca yang sejuk karena berada di daerah pegunungan. Tanahnya subur sehingga sangat cocok untuk bercocok tanam. Selain kopi, warga di sana juga menanam holtikultura.
Selain itu, di daerah tersebut juga diperkirakan memiliki kandungan gas yang bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Sudah beberapa kali penelitian untuk mendapatkan kandungan gas tersebut dilakukan.
Liberia mempunyai tetangga yang memiliki nama unik juga, yakni Purworejo yang kini telah terbagi menjadi tiga desa. Di Pulau Jawa, Purworejo merupakan sebuah kebaupaten di Provinsi Jawa Tengah. Lalu dari mana nama 'unik' tersebut?
Kedua nama ini juga mempunyai hubungan dengan asal-usul masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. "Sebagian besar masyarakat sini, asal-usulnya dari Jawa," ujar Sangadi atau Kepala Desa Liberia, Ismail Sirun.
Sekitar tahun 1916, Pemerintah Belanda membawa warga dari berbagai daerah di Jawa ke daerah Modayag, Boltim. Selain bekerja pengolahan belerang, Pemerintah Belanda saat itu memperkerjakan warga asal Jawa tersebut di perkebunan, terutama kopi. Tak aneh, jika di daerah Purworejo masih terdapat bekas pabrik pengolahan kopi peninggalan Belanda.
Sekitar tahun 1955, pedukuhan Liberia mulai terbentuk. Tapi, dari mana nama Liberia ini? "Kalau cerita turun temurun, awalnya bukan Liberia tapi Siberia. Konon, kopi di sini dari daerah Siberia," ujar sangadi yang Mei 2012 nanti genap dua tahun memimpin Desa Liberia.
Ismail merupakan generasi kedua yang lahir di Tanah Totabuan. Generasinya masih menggunakan Bahasa Jawa untuk percakapan sehari-hari. Namun terselip juga bahasa Mongondow.
"Keturunan Jawa di sini sudah kawin mawin dengan orang Mongondow. Selain Bahasa Jawa, kami juga menggunakan bahasa Mongondow atau juga Bahasa Melayu dialek Manado," tambah ayah satu anak ini.
Ternyata, selain Liberia yang berada di Benua Afrika, dua desa di Kecamatan Modayag ini mempunyai hubungan juga dengan Siberia yang berada di Asia Utara kendati hanya di asal usul nama.
"Da Gusti Alloh mah tara emam jengkol, nya Apa?" Pertanyaan bernada retoris ini disampaikan Ujang saat berdiskusi dengan Apa dan Nyai tentang bagaimana Tuhan membuat langit. Pernyataan Ujang tersebut respon atas penjelasan Apa dan pertanyaan Nyai.
Adegan tersebut terdapat dalam antologi karangan pak Wahyu Wibisana berjudul "Anaking Jimat Awaking". Buku tersebut berisi cerita-cerita dalam kolom "Anaking Jimat Awaking" yang dimuat di majalah berbahasa sunda, Mangle, awal tahun 70-an.
Demikian menurut pak Hawe Setiawan dalam pengantar buku yang diterbitkan oleh PT Kiblat Buku Utama. Cetakan pertama buku berbahasa sunda tersebut tercatat pada November tahun 2002.
Ada 28 kisah dalam buku tersebut yang temanya berbeda-beda. Namun benang merahnya pada tiga tokoh, yakni Apa (panggilan kepada Bapak) dan dua anaknya, Nyai dan Ujang. Namun, kadang-kadang muncul juga Emah, atau sang Ibu dalam beberapa bagian.
Cerita-cerita yang beragam, namun tetap dalam 'dunia kecil' mereka. Ada bagian ketika orang dewasa merindukan masa kecil yang hilang. Dan, bagaimana Apa melihat dunia dua anaknya.
"Jeung, upama bapa hidep neuteup leleb ka diri hidep harita, eta the saestuna keur pupuntenan di hareupeun panto alam dunya nu beda, alam dunya nu dipribumian ku hidep pribadi. Naha hidep daek mukakeun pantona? Naha upama geus dibuka, nu pupuntenan teh bisa asup ka jerona?" (Aya Nu Pupuntenan di Luar; hal 13).
Kadang tertawa, senyum, bahkan haru, saat membaca cerita-cerita dalam buku ini. Namun selalu ada makna yang dalam setiap bagian kisahnya. Dan, kadang saya berpikir, anak kecil lah filsuf sesungguhnya dalam dunia ini. ***
Saya merasa surprise saat melihat buku berjudul "Anaking Jimat Awaking" di sebuah toko buku di Manado. Ya, buku itu saya temukan di sebuah rak yang terletak agak terpencil awal Maret tahun 2011 di Manado, Sulawesi Utara.
Tak berpikir panjang, saya langsung beli buku itu. Saya rindu membaca buku dalam bahasa ibu saya, Bahasa Sunda. Waktu kecil, biasanya saya baca majalah Mangle dari 'kapi nini dan kapi aki' (adiknya nenek saya) yang memang berlangganan majalah tersebut.
Namun sampai satu tahun lebih, buku tersebut belum saya baca juga. Nasibnya lebih buruk dibandingkan beberapa novel dan buku yang berbulan-bulan bahkan capai setahun belum tuntas juga bacanya.
Saya sementara menyalahkan era digital sehingga hal tersebut terjadi. Tudingan yang licik memang. Tapi, memang saya lebih banyak baca di ponsel atau buka laptop. Namun, beberapa hari lalu, saya merasa berdosa saat melihat buku-buku atau novel yang belum terbaca.
Saya teringat ketika dosen saya dulu mengeluarkan celetukan saat mengajar. "Semoga saya tidak berdosa karena hanya membeli buku, kemudian menyimpanya tanpa pernah membacanya." Kurang lebih demikian beliau katakan saat itu dengan nada menyesal.
Saya tidak ingin menyesal. Saya tidak mau menikmati hanya sebagai kolektor. Saya ingin menikmati kata demi kata, kalimat per kalimat, paragraf ke paragraf, dengan bau kertas tercium. Ah, nikmatnya!
Dan, setelahh baca antologi "Anaking Jimat Awaking", saya rasa tidak menyesal meluangkan waktu. Saya puas.
..:: Kotobangon, peuting maju ka janari 8 April 2012 ::.