Sabtu, 12 Juni 2010

Kowalski

Laki-laki tua mati diberondong peluru. Tao dan Daisy susuri kota dengan Gran Torino 1972.
Kowalski

Walt Kowalski mempunyai tiga dosa yang membebani hidupnya. Pertama mencium perempuan lain, sementara istrinya ada di ruangan lain. Kedua tidak membayar pajak ketika mendapat keuntungan dari hasil penjualan perahu. Ketiga tidak dekat dan tidak tahu caranya agar bisa akrab dengan dua anak serta cucu-cucunya.

Setidaknya itu yang diakuinya dihadapan Padri yang memaksanya untuk melakukan pengakuan. Bukan karena membunuh remaja dengan sekop atau 12 orang lainnya yang ia habisi ketika dia harus ikut berperang di Korea tahun 1950-an. “Aku tidak pernah cemas atas apa yang diperintahkan,” ujarnya kepada Padri muda tersebut.

Kowalski adalah orang tua yang keras, kaku, suka mengumpat, tetapi akrab dengan rekan sebayanya. Membenci tetangga Hmong-nya, kendati akhirnya di lingkungan tersebutlah ia merasa nyaman. Kenyaman yang bermula dari ketidaknyamanan.

Dia menjadi akrab dengan dua remaja kakak beradik dari komunitas Hmong, Sue dan Tao, setelah Tao mencoba mencuri mobil Gran Torino 1972, harta yang sangat berharga Kowalski; simbol kebanggaan pria tua itu setelah 50 tahun bekerja di Ford. Bagi Tao, pencurian itu merupakan syarat inisiasinya dengan geng Hmong.

Kowalski memberikaan pelajaran hal-hal praktis untuk hidup pada Tao. Bahkan, diajarinya bagaimana orang dewasa mengumpat untuk menjalin komunikasi sosialnya. Kowalski menjadi role mode bagi Tao.

Pria tua itu mati ketika mendatangi geng Hmong setelah teror yang dilakukan geng tersebut pada keluarga Tao. Dia diberondong peluru.

Sampul

Potret orang tua memegang senjata dan ledakan mobil di gambar sampul DVD bajakan film Gran Torino menjadi alasan untuk tidak melihat isi film yang dibintangi disutradarai aktor gaek Clint Eastwood tersebut. DVD itu masuk dalam dus sepatu warna merah.

Namun, sore itu teman saya yang mengirim kepingan padat itu menulis pesan di YM : “Gran Torino lebih layak mendapat Oscar daripada Slumdog Millionaire.”

Dia menyarankan untuk menonton dulu film tersebut. “Ada kritik sosial yang dalam, dibandingkan film india yang temanya biasa saja itu,” tulisnya.

Saya belum menonton slumdog, tetapi dengan raihan 8 Oscar tentu menarik hati saya. Hanya belum dapat saja DVD bajakannya. Hehe.

Apa yang dikatakan teman tersebut, membuat saya memutuskan untuk melihat film Gran Torino. Dont judge a book by its cover, ah, ternyata tembakan hanya ada di akhir film. Walaupun hampir setiap saat sang kakek mengeluarkan senjata, tapi senjata tersebut tidak pernah digunakannya. ::.

Regesan

Regesan apabila diartikan secara bebas adalah angin bertiup nan sejuk. Rasa itu yang membuat Indra Sasube selalu ingin melongok air terjun yang terletak di Tinoor, Tomohon. "Jika saya menginginkan ketenangan, saya akan datang ke tempat ini. Sejuk dan pikiran pun menjadi tenang," kata remaja yang baru saja menyelesaikan ujian akhir.

Air yang jatuh dari atas tebing setinggi sekitar 30 meter tersebut seakan saling berkejaran. Berusaha untuk segera mecapai dasar danau kecil yang berada di bawahnya. Namun, sebagian air tersebut sudah terhempas ketika mengenai batu yang menonjol diantara tebing.

Ada juga bagian-bagian kecil yang tidak bisa bertahan dari arus utama. Mereka berhamburan dan terhempas hampir tak terlihat. Seperti kabut, tapi percikan kecilnya terasa di tubuh. Sementara itu, aliran sungai tak berhenti bergemuruh.

Sudah enam kali dalam beberapa bulan terakhir, Indra anggota kelompok pecinta alam ini datang ke Regesan. Kadanng dia datang sendiri atau bersama teman-temanya. "Selalu ada yang baru setiap kali datang ke sini," katanya.

Bagi saya, sekali cukup sudah. Untuk bisa menikmati keindahan Air Terjun Regesan Tinoor Satu, harus menuruni tebing dengan sudut kecuraman hampir mendekati 80 derajat. Jalan terjal tersebut kira-kira jaraknya 50 meteran dari atas ke bawah. Tidak perlu hati-hati, tapi ekstra hati-hati yang dibutuhkan selama menuruni tebing itu.

Kendati jaraknya hanya sekitar 300 meter saja dari jalan raya Manado-Tomohon, air terjun Regesan tidak akan mudah ditemui. Dia teresembunyi. Tertutup rimbunan tanaman diantara perbukitan, di sebuah lembahan yang tebingnya sangat curam.

Jika berniat pergi ke air terjun tersebut, maka sebagai patokannya adalah sebuah bangunan mirip gardu di tepi jalan Manado-Tomohon. Bangunan yang dindingnya coreng moreng karena aksi vandalisme itu terletak di sebelah kiri . Jaraknya sekitar 75 meter sebelum jalan masuk ke Kelurahan Tinoor jika dari arah Manado.

Dari bangunan yang tidak terawat itu, ada jalan setapak yang sudah plester. Ikuti jalan setapak itu hingga sampai sekira 250 meter. Di pinggiran jalan setapak itu ada satu dua rumah dan beberapa tempat duduk yang sepertinya sengaja dibuat bagi para pengunjung.

Setelah mentok, ada sebuah jalan setapak kecil. Dia berada di sebuah tebing. Dan jalan itulah satu- satunya untuk menuju Air Terjun Regesan. Perlu keberanian dan persiapan fisik yang cukup untuk menuruni tebing tersebut.

Bagi yang tidak terbiasa atau pertamakali, mungkin bukan hanya kaki saja yang dipakai untuk berjalan. Tapi juga, tangan, bahkan bagian tubuh lainnya harus memijak di tanah. Jalan kecil ini bahaya. Tidak ada pengaman.

"Dulu ada beberapa pohon yang sengaja di taruh sebagai pijakan atau tempat untuk digang tangan, tapi banyak yang hilang. Mungkin karena jatuh atau para pengunjung yang iseng merusaknya," ujar Indra.

Namun bagi sebagaian orang, hal tersebut justru memacu adrenalin untuk menaklukannya. Seperti beberapa anak sekolah yang melepas penat setelah Ujian Nasional. "Kami ke sini memang untuk refresing," ujar Arland dari SMAN 3 Manado.

Semua penat itu hilang manakala sudah tiba di bawah lembah dan melihat air terjun tersebut. Tenaga seakan pulih kembali ketika melihat indahnya air terjun tersebut. Dan, tenaga itu haru disimpan, untuk bekal pulang kembali ke atas bukit.

Monyet Putih

Air terjun Regesan Tinoor mempunyai sebuah kisah. Cerita turun temurun yang semakin kabur dan selalu terselip kata konon saat mereka menceritakannya.

Ada makhluk berupa yeti; wolay atau monyet yang menjaga keasrian tempat tersebut. "Berbeda dengan monyet biasanya. Menurut cerita, monyet ini berwarna putih dari ujung kepala hingga kaki," ujar Oscar Lolowang, warga Kelurahan Tinoor.

Saya membayangkan Hanoman.

Kata Oscar, wolay ini sangat protektif. Jadi jangan coba-coba berbuat onar atau melakukan hal yang tidak dibenarkan secara moral di tempat tersebut. Bila tidak monyet putih tersebut akan mengejar si pembuat onar tersebut.

"Sebab itu, jangan berteriak-teriak atau bagi yang berpacaran jangan sampai berlebihan jika berada di air terjun itu," kata Oscar.

Namun sepengetahuan dia, hingga saat ini memang belum ada yang melihat monyet putih tersebut. "Tapi kabarnya memang dia selalu menunggui tempat tersebut," imbuhnya.

"Namun, mungkin pesan yang ingin disampaikan orangtua dulu adalah pentingnya menjaga tempat tersebut agar tetap asri."

Di luar cerita tersebut, Oscar mengatakan keasrian dan keindahan alam tersebut sayang jika dibiarkan dan tidak terawat seperti sekarang. Dia berharap Pemerintah Kota Tomohon dapat memperhatikan aset wisata tersebut.

"Itu hanya air terjun satu saja, apalagi jika melangkah lebih jauh ada air terjun empat, dimana air yang jatuh tidak hanya satu tapi empat dalam satu areal. Pasti banyak orang yang tertarik datang," ujarnya.

Tidak terawatnya tempat tersebut dapat terlihat sejak akan memasuki areal air terjun tersebut. Gardu di pinggir jalan Tomohon-Manado sudah coreng moreng, tempat-tempat istirtahat sepanjang jalan kendati masih bagus sudah kotor.

Harap Oscar, "Jangan biarkan aset berharga ini menjadi rusak. Jadi saya harap, tempat ini bisa dikelola dengan baik yang pada akhirnya secara ekonomi dapat menguntungkan kepada masyarakat yang berada di sekitarnya."

Jika harapan Oscat ditujukan kepada pemerintah, sepertinya tidak akan terkabulkan. Setidaknya dalam setahun ini.

Tahun 2010, anggaran tertata pada APBD Kota Tomohon untuk dunia kebudayaan dan pariwisata adalah Rp 9,6 milyar. Sebagian besar anggaran tersebut diperuntukkan untuk kegiata Tomohon of Flower sebesar Rp 8 milyar.

Sisanya adalah gaji pegawai Rp 980 juta. Sekitar Rp 800 juta untuk kegiatan pariwisata dan kebudayaan, termasuk di dalamnya untuk pembanguan infrastruktur tujuan wisata.

Pembangunan infrastruktur tujuan wisata dianggarkan hanya Rp 100 juta. Duit sejumlah itu, diperuntukkan untuk membuat toilet dan gazebu di tempat wisata Danau Linow dan Gunung Mahawu. ***

Warereh

Rasa ingin tahu membuat Warereh kelihatan nakal. Dan, para dewa merasa jengah ketika Warereh terus menerus mengintip kehidupan mereka di atas langit.

Mereka merasa ruang pribadi telah diganggu oleh seorang manusia yang tak tahu diadat.

Perasaaan terganggu yang menumpuk menjadi amarah. Amarah yang hebat. Amarah yang membuat gempa di bumi. Membunuh Warereh menjadi puncak amarah.

Maka, buru dan burulah Warereh kemana pun dia pergi.

Warereh bersembunyi. Memupuk dendam yang dahsyat dalam hati. Pedang maha panjang dan besar menjadi piranti diri.

Dendam membuat dia menjadi kuat untuk memotong Lokon. Gunung yang menjadi jalan dia ke langit untuk melihat para dewa. Dunia bergemuruh. Manusia pucat. Dewa heran.

Klabat, ujung atas Lokon itu, diletakaan di atas kepala dia. Arah pantai Tonsea menjadi tujuan. Di tanah itu dia letakkan Klabat.

Dendan membuncah tiada henti. Soputan yang menjadi jalan lain ke surga dia potong. Dia lemparkan potongannya ke tengah lautan Wenang. Manado Tua pun muncul.

Terputus sudah jalan antara langit dan bumi. Tepisah untuk selamanya.

Manusia membenci Warereh, saudaranya sendiri. Manusia menganggap hanya ejekan dan hinaan yang pas bagi si pengganggu perdamaian. Warereh tertelan sepi.

.::Tumatangtang, antara 24-25 Mei 2010::.
Sumber: N Graafland, Minahasa:Negeri, Rakyat dan Budayanya

django

Penjual batagor di dekat pertigaan Tololiu memanggil lelaki tua itu Opa. Sebutan yang jamak bagi orang Tomohon,-bahkan mungkin umumnya orang Minahasa-, untuk memanggil orang yang sudah berusia lanjut.

Penjual batagor bukan tou Minahasa. Mereka asal Malangbong, Garut, yang menulis Batagor Bandung di gerobak dagangannya. Mereka memanggil Opa pada lelaki itu mungkin merupakan usaha 'mihapekeun maneh' dengan budaya setempat.

Dalam beberapa kali percakapan yang kering dengan lelaki itu, saya panggil dia Opa. Tapi, suatu waktu saya panggil dia dengan sebutan Abah. Panggilan yang biasanya saya berikan kepada orang tua di kampung untuk lebih mengakrabkan diri.

Entah berapa usia opa ini. Saya tidak pandai menerka. Tapi saya beranikan diri untuk menjadi orang pandai; mungkin dia berusai 60 tahunan. Mungkin 65 tahun. Tapi, bisa jadi lebih muda dari dugaan saya. Kesenangan dan kesusahan hidup bisa membuat seseorang kelihatan lebih tua atau sebaliknya.

Lelaki ini tingginya sekitar 168 centimeteran. Saya tahu, saat ia berpapasan dengan saya. Bahunya hampir sejajar dengan dengan bahu saya. Dia kurus. Ini tampak terlihat dari tulang-tulang tangannya yang menonjol dibalik kulit tipis mengkerut yang membungkusnya. Wajahnya pun dihiasi kerutan mendekati keriput.

Satu tanda yang jelas dan khas pada pria ini adalah topi bundar di kepalanya. Topi ini sepertinya hanya dilepas saat kepalanya terasa gatal. Bila itu terjadi, tampaklah kepalanya yang sudah membotak. Rambut tipis menguban ternyata hanya tumbuh sedikit subur dibagian bawah kepalanya. Rambut yang memanjang dia ikat dengan tali karet.

Satu lagi yang gampang dikenali. Di sela dua bibir biasanya terselip rokok. Asap selalu keluar seakan tak henti dari mulut dengan gigi-giginya yang sudah meninggalkan gusinya. Saat merokok dia selalu mengadahkan dagunya sedikit ke atas. Jika menghisap, matanya sedikit tertutup. Matanya kembali normal berbarengan dengan keluarnya asap rokok.

Di dekat kedai batagor itu, hampir tiap hari dia berjualan langsa atau dukuh. Kadang-kadang rambutan atau buah lainnya dia jual juga. Namun, langsa tetap menjadi dagangan utamanya. Entah jam berapa dia mulai berdagang. Yang jelas, biasanya saya lihat dia berbenah untuk pulang (entah kemana pulangnya), rata-rata jam dinding di kedai batagor itu menunjukkan pukul sembilan malam.

Dia lebih banyak diam menunggu dagangannya. Sesekali dia masuk ke kedai sekedar melihat acara televisi yang menarik hatinya. Sepertinya dia tidak pernah mengeluh dan setia dengan apa yang dia lakukan. Mungkin kesetiannaya tersebut bukan karena hatinya menginginkan itu, namun kebutuhannya yang membuatnya bertahan. Itu hanya dugaan saya saja.

Seperti saya katakan sebelumnya. Dia lebih banyak diam dari pada bicara. Tidak banyak menunjukkan ekspresi kecuali pada pada siaran olahraga yang disiarkan di televisi. Namun suatu waktu, ternyata dia bisa juga menunjukkan rasa sukanya.

Ketika itu adalah manakala seorang penjual batagor meminta saya untuk menunjukkan bagaimana menggunakan kamera poket digital yang biasa saya pakai bekerja. Saat sang penjual batagor itu cari objek untuk di foto, kebetulan opa sedang berada di dalam dengan rokok di bibirnya.

Maka saya pun menunjukkan caranya dengan menjepret Opa. Opa tampak tidak keberatan. Bahkan, dia merokok dengan sedikit bergaya. Ketika saya perlihatkan kepada lelaki pedagang langsa itu, dia tampak senang.

"Seperti Django," ujar dia singkat dengan sedikit senyum. Django sang koboy. Django film western buatan orang Italia yang kabarnya film tersadis yang pernah dibuat. Setidaknya itu yang saya tahu tentang Django.

Namun setelah 'sesi pemotretan' pertama itu selesai, sang Opa tampak enggan difoto lagi. Entah apa sebabnya. Dia bahkan seolah menjauh saat saya sekedar mengeluarkan kamera yang sebelumnya telah dimasukan ke kantong saya.

Saat saya pulang, dia berdiri di sisi pintu antara gerobak Batagor sambil melihat jalanan yang sudah lengang, temaram mendekati gelap dan basah. Saya tidak mau mengganggunya.

Bebebarapa hari terakhir ini, saya tidak pernah berjumpa dengan dia. Flu hebat membuat saya memilih tidak menuai angin malam. Lebih baik saya diam di rumah. Namun, saat itu saya menjadi kepikiran, siapa nama Opa sebenarnya?

.::Tumatangtang, antara 21 - 22 Mei 2010::.

Rabu, 05 Agustus 2009

Siang yang Basah di Wiau Lapi, Orang Asing Terkapar di Tumpukan Koran Bekas

EMPAT pria berkumpul. Mereka berkeluh kesah soal pekerjaan, namun mereka tak sungguh-sungguh bicara soal pekerjaan. Mereka hanya ingin mabuk.

Satu gelas dipakai bersama. Dua kaleng minuman bersoda. Satu botol 600 ml yang berisi cap tikus. Mouse brand, demikian empat pria berumur 20-an itu kadang menyebutnya. 

Cap Tikus Initiative (CTI) Summit plesetan dari Coral Triangle Initiatve pun digelar di atas kasur sengketa dan tumpukan koran bekas.
***

Siang yang basah di Wiau Lapi, desa kecil di Kacamatan Tareran, Minahasa Selatan. Alvin Worotitjan masih terkantuk-kantuk saat turun dari rumahnya. 

Namun, pria kurus itu tampak antusias ketika saya minta ditunjukkan bagaimana membuat cap tikus; minuman khas Minahasa.

“Mari saya tunjukkan di mana tempatnya dan bagaimana cara membuatnya,” ujar pria berusia 44 tahun itu sambil menggamit tangan anaknya yang kira-kira berusia enam tahun.

Tanpa baju, hanya mengenakan celana tiga perempat, dia langsung menclok di jok belakang motor Supra Fit pinjaman kantor saya. Anaknya berada di antara saya dan dia.

Setelah mengucapkan terimakasih kepada pria yang mempertemukan saya dengan Alvin, kami pun langsung berangkat menuju tempat pembuatan cap tikus. 

“Wah, saya baru minum (cap tikus) setengah gelas barusan. Belum habis,” ujar Alvin saat motor mulai berjalan.

Dia mengaku, cap tikus seringkali menjadi minuman pembuka hari-harinya. “Setiap bangun tidur, kali pertama yang saya minum bukan air putih tapi seringkali cap tikus,” katanya enteng.

Kurang dari lima menit dari rumahnya Alvin, kami sudah sampai di tempat dituju. 
Tempat pembuatan cap tikus itu dekat dengan perkampungan. Hanya beberapa puluh meter saja dari rumah penduduk.

Saya parkirkan motor di rumah terluar. Alvin setengah memaksa menyuruh saya menggunakan motor sampai ke pondok kecil pembuatan cap tikus, namun saya menolak. 

“Jalannya kecil dan licin. Saya ga berani,” kata saya.

Saya mulai berjalan menuju kebun yang ditumbuhi pohon enau atau di Minahasa lebih dikenal dengan nama pohon seho. Alvin dan anaknya sudah berjalan terlebih dahulu.

Di atas kepala saya, tampak buluh-buluh dari bambu disusun mulai menanjak kemudian menurun dalam bentuk seperti persegi panjang. 

Bila digabungkan panjang bambu tersebut semuanya lebih dari 50 meter. Kemudian saya tahu, pipa-pipa bambu itu untuk menyuling saguer atau air nira yang diambil dari pohon seho.

Di bangunan berukuran 2x3 tempat pembuatan cap tikus itu, sudah ada dua orang pria. 

Pria yang kurus tinggi, wajahnya tirus dan rambut panjang sebahu acak-acakan, namanya Joly Langi. Dia memakai ponco kuning tanpa baju di dalamnya.

Satu lagi pria di tempat tersebut tidak mau menyebutkan namanya. Alvin memperkenalkan pria itu. Pria itu sedikit gemuk dengan tinggi sekitar 160 cm.

Dibandingkan dengan Joly, Alvin, dan saya, pria ini penampilannya lebih rapih. Kaus berkerah dan celana katun yang ujungnya dimasukan ke sepatu bootnya, memberi kesan rapih itu. 

Saat berbicara pria itu selalu menggerakkan tangannya dan itu yang membuat saya sedikit ketir; dia memegang golok, hingga jika berbicara goloknya ikut bergerak.

Joly memasukkan kayu bakar ke tungku yang terbuat dari tanah. Dia mengatur kayu-kayu bakar tersebut agar api dalam tungku tidak mati. 

Di atas tungku terdapat drum yang warnanya sudah hitam pekat. Tepat di tengah-tengah drum yang tertutup rapat tersebut terdapat cerobong bambu.

"Cerobong tersebut merupakan tempat mengalirnya uap dari saguer yang dipanaskan," ujar Joly.

Menggodok saguer untuk mendapatkan uapnya merupakan satu tahapan dalam membuat minuman cap tikus. 

"Pembuatan cap tikus dari pertamakali menyadap saguer sampai jadi cap tikus mebutuhkan waktu berhari-hari, tapi itu bisa dilakukan sambil melakukan pekerjaan lain," ujarnya.

Dia mencontohkan untuk menyadap bisa dilakukan kapan pun tidak memerlukan waktu khusus. Tidak sama dengan membuat gula aren yang harus pagi atau sore hari ketika menyadapnya.

Selesai disadap, saguer di kumpulkan dalam galon, demikian Alvin dan rekannya menyebut jeriken. 

Jeriken tersebut disimpan di atas tanah. Saguer tersebut mengalir ke jeriken melalui bantuan plastik yang dipasang dari batang seho yang disadap.

"Plastik itu praktis. Jika galonnya di simpan di atas seho, nanti berat menurunkannya," jelas Alvin.

Menentukan batang seho yang bisa disadap tidak sembarangan. Batang tersebut biasanya dipukul-pukul dulu. 

"Sebagai petani kita dapat merasakan mana yang sudah bisa disadap, mana yang belum," kata Joly.

Ketika saguer sudah terkumpul, kemudian didiamkan sedikitnya dalam satu hari atau dua hari dalam galon yang tertutup sehingga kadar asamnya cukup baik untuk pembuatan cap tikus. Baru kemudian dipanaskan dalam drum.

Saguer sebenarnya masih bisa bertahan sampai seminggu, tapi menurut Joly, kadar keasaman atau cukannya akan turun sehingga kadar alkoholnya pun turun. 

"Dalam seminggu itu harus saguer harus disimpan dalam galon yang tertutup rapat, agar cukanya tidak keluar," jelas Joly.

Setelah dipanaskan, uap dari saguer tersebut mengalir ke cerobong bambu kemudian dialirkan dalam pipa-pipa yang terbuat dari bambu.

Bambu-bambu tersebut dipasang di atas tanah. Bambu pertama dipasang mengarah menanjak. Bambu kedua, ketiga, keempat dan kelima dipasang menurun. 

Ujung bambu kelima mengarah kembali ke tempat tungku, dan disanalah keluar uap saguer. Dan, itulah yang disebut cap tikus. 

"Sebenarnya memasuki bambu kedua uap tersebut telah menjadi cair kembali," ujar Alvin.

Untuk mendapatan cap tikus, pemanasan Saguer bisa berlangsung dari 1,5 jam sampai 2,1 jam. 

"Jika tungkunya baru dipakai, biasanya lebih lama. Tapi untuk, pemanasan kedua, ketiga dan seterusnya bisa lebih pendek lagi," jelas Alvin.

Dalam sehari, tungku tersebut bisa dipakai sampai tujuh kali pemanasan saguer. Tungku tersebut dipakai oleh beberapa pembuat cap tikus. 

“Tempat ini bisa dipakai siapa saja. Jadi, siapa yang duluan, boleh menggunakannya terlebih dulu,” jelas Alvin.

Satu jeriken saguer atau kira-kira 25 liter, bisa menghasilkan 20 botol cap tikus. Satu botol cap tikus tersebut dijual ke penampung sekitar Rp 2 ribu. 

Kadar alkohol juga mempengaruhi harga cap tikus. Kadar alkohol terendah cap tikus adalah 30 persen. Dari penampung, cap tikus tersebut dijual kembali ke pabrik-pabrik minuman.

Jumlah produksi cap tikus tergantung pada banyak tidaknya saguer. Hal tersebut menurut Alvin tidak bisa diprediksi. 

"Baik musim hujan atau musim kemarau, produksinya bisa sedikit tapi bisa juga banyak. Tapi, yang jelas kalau pohon sehonya masih muda biasanya lebih banyak menghasilkan saguer," dia menambahkan.

Penyulingan sudah tampak hasilnya. Cairan bening sudah keluar ujung bambu. 
Alvin menawarkan kepada saya untuk meminum cairan putih yang sudah dinamakan cap tikus itu. Namun, saya menolak. 

“Tidak apa-apa, ini masih bagus. Enak dan masih manis,” ujarnya setengah merayu. Saya tetap menolak.

Setelah saya rasa semua proses pembuatan cap tikus sudah saya ikuti, saya pun pamitan. Alvin, masih meminta saya untuk minum. 

“Wah, kalau saya minum, bisa-bisa saya jatuh di jalan,” kata saya.

Dia pun akhirnya hanya menawarkan saya untuk membawa cap tikus. 

“Dia disuruh minum saja tidak mau. Apalagi suruh bawa pasti lari dia.” Kurang lebih itu yang saya pahami dari perkataan pria yang tak mau menuebutkan nama kepada Alvin. Dia berkata dalam bahasa Manado yang cepat.
***

Alvin dan Joly adalah dua dari sekian banyak cap tikus di Wiau Lapi. Di Kecamatan Tareran menurut Alvin, Wiau Lapi merupakan penghasil terbanyak cap tikus. 

Di Sulawesi Utara, Kabupaten Minahasa Selatan merupakan penghasil cap tikus yang cukup besar. 

Setidaknya, data yang diperoleh dari situs resmi kabupaten ini, sembilan juta liter dihasilkan kabupaten yang baru berdiri tahun 2003 ini.

“Minuman ini merupakan minuman khas Minahasa. Bahkan, beberapa daerah di Minahasa minuman yang mempunyai kadar alkohol tinggi ini disajikan dalam pesta pernikahan,” kata Alvin.

Alvin mengaku sudah belajar membuat cap tikus sejak kecil. “Ya, seumuran anak saya itu, saya sudah dibawa orangtua saya ke kebun,” ujarnya sambil menunjuk anaknya yang sedang asik menghitung jeriken-jeriken yang entah berisi saguer atau cap tikus.

Cap tikus merupakan sumber penghidupan bagi sebagian orang. Saya pernah bertemu James Tengor, warga Suluun Tareran, di halaman gedung DPRD Minsel. 

Saat itu dia menghadiri rapat dengar antara anggota DPRD Minsel dan petani cap tikus mengenai pembahasan rancangan peraturan daerah mengenai cap tikus. 

James mengaku dirinya bisa sekolah sampai ke perguruan tinggi hasil cap tikus.

“Banyak yang mengais rezeki dari cap tikus. Tidak sedikit yang memanfaatkan pohon seho untuk menggantungkan hidupnya,” ujar pria yang pada pemilihan legislatif lalu mencalonkan diri jadi anggota dewan, namun gagal mendapatkan kursi yang diidamkannya.

Selain petani cap tikus, ada juga penampung. Penampung ini biasanya jauh lebih sejahtera dibandingkan dengan petani cap tikus. 

Seorang Hukum Tua atau kepala desa  yang juga seorang penampung mempunyai beberapa mobil. Rumahnya pun mentereng.

Dari penampung, cap tikus kemudian dijuak ke pabrik-pabrik pembuatan minuman di Manado.

Walaupun cap tikus minuman khas di Minahasa, namun kadar alkoholnya yang tinggi mengakibatkan peredaran sebagai minuman diperketat. 

Peraturan daerah pun dibuat. Pemerintah Minsel sepertinya harus berfikir keras untuk membuat kebijakan yang menguntungkan bagi semua pihak. 

Pembuatan pabrik gula dan bioetanol di Kapitu, Amurang Barat sepertinya menjadi solusi. Namun, bukan hal mudah mengalihkan kebiasaan.

Perlakuan saguer untuk gula dan cap tikus sangat berbeda. Belum lagi alat dan waktu pengambilan saguer. 

Bila biasanya bisa mengambil saguer kapan saja, untuk saguer gula hanya bisa dilakukan pagi dan sore saja. Kurang dua jam harus diolah, bila tidak, kadar keasaman saguernya menjadi lebih tinggi.

Tingginya modal yang harus ditanamkan di pabrik tersebut membutuhkan investor yang betul-betul kuat. 

Bila pabrik yang rencananya memproduksi gula untuk ekspor tersebut membutuhkan 500 liter saguer per harinya, maka, kasarnya, dibutuhkan Rp 5 juta per hari untuk membeli saguer. Itu hanya untuk membeli saguer saja.

Diakui oleh Decky Keintjem, dari Dinas Perkebunan Minsel, biaya produksi untuk pembuatan gula dan etanol masih tinggi. Harga saguer yang dibeli lebih tinggi dari pasaran. 

Alasan hal itu dilakukan, menurut Decky, adalah untuk mendorong agar masyarakat mau menjual saguernya untuk pembuatan gula atau bioetanol.

“Sebenarnya harga pasaran saguer antara Rp 700 – Rp 800, namun kami beli dengan harga Rp 1 ribu. Ini hanya dorongan saja sebenarnya,” ujarnya.

Akibatnya, bila untuk mendapatkan satu kilo gula membutuhkan 15 liter, maka biayanya Rp 15 ribu. Tinggi sekali. 

Kini, menurut Decky, pihak operator gula berusaha untuk menekan hingga produksi di bawah level Rp 10 ribu untuk menghasilkan satu kilogram gula.

Belum lagi keterampilan teknis lainnya untuk pengoperasian mesin-mesin di pabrik tersebut. 

Pabrik yang diserahkan kepada 40 gabungan kelompok tani itu, tampak sepi.  Tidak ada kegiatan di pertengahan Mei saat matahari menyengat di luar pabrik itu.

Ketidakjelasan operasional pabrik sebelumnya pernah dipertanyakan oleh James. 

"Yang kami dengar kesepakatan dengan investor belum jelas. Katanya harga bioetanol dan gula mahal. Tapi kami tidak ingin hal tersebut menjadi surga telinga saja," ucapnya.
***

Anak Alvin masih bermain di antara jeriken-jeriken yang entah berisi saguer atau cap tikus. 
Sambil menikmati minuman bening khas Minahasa itu, Alvin membakar cap tikus yang baru disuling. Apinya biru.
***

Empat orang terkapar.
***

-= Catatan 
1. Catatan ini hasil reportase antara April-Juni 2009
2. Beberapa bagian saya sunting lagi 26 November 2019.